Menulis buku

Gelisah Karena Hutang

🍃🌸 Gelisah Karena Hutang🌸🍃

💢💢💢💢💢💢💢💢

Pertanyaan: Kalau kita tidak bisa melunasi huang akan tetapi ajal sudah menjemput kita,gimana pertanggung jawabannya nanti di kubur dan di akhirat,sedangkan saya sudah bersungguh sungguh akan tetapi ga mampu Itu yg terkadang membuat saya gelisah

+62 813-1677-xxxx

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim …

Dalam banyak hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tertera tentang buruknya keadaan orang yang wafat dalam keadaan berhutang.

Di antaranya, kami sampaikan tiga saja:

*1. Jiwanya “tergantung” sampai hutanh itu dilunaskan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin “tergantung” karena hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.”

*(HR. At Tirmidzi No. 1079, katanya: hasan. Ibnu Majah No. 2413. Ahmad No. 10607. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 10607). Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: hasan. (Tahqiq Musnad Abi Ya’la No. 6026)*

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

فيه الحث للورثة على قضاء دين الميت والإخبار لهم بأن نفسه معلقة بدينه حتى يقضى عنه

_Dalam hadits ini terdapat dorongan bagi ahli waris untuk melunasi hutang si mayit, dan pengabaran bagi mereka bahwa jiwa mayit tersebut tergantung karena hutangnya, sampai hutang itu lunas._ *(Nailul Authar, 4/23)*

Jika belum dilunasi, maka jiwa mayit tersebut “tergantung” ……. _Apa makna tergantung?_

Para ulama berselisih pendapat dalam memaknai mu’allaqah (tergantung) dalam hadits ini.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarfkafuri Rahimahullah menjelaskan:

قال السيوطي أي محبوسة عن مقامها الكريم وقال العراقي أي أمرها موقوف لا حكم لها بنجاة ولا هلاك حتى ينظر هل يقضى ما عليها من الدين أم لا انتهى

_Berkata As Suyuthi, yaitu orang tersebut tertahan untuk mencapai tempatnya yang mulia. Sementara Imam Al ‘Iraqi mengatakan urusan orang tersebut terhenti (tidak diapa-apakan), sehingga tidak bisa dihukumi sebagai orang yang selamat atau binasa, sampai ada kejelasan nasib hutangnya itu sudah dibayar atau belum. Selesai_. *(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/193)*

*2. Mati Syahid pun terhambat ke surga karena hutangnya*

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْن

_“Orang yang mati syahid diampuni semua dosanya kecuali hutangnya._” *(HR. Muslim No. 1886)*

Dari Muhammad bin Jahsy Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ مَرَّتَيْنِ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

_Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya hutang, maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya itu dilunasi._ *(HR. Ahmad No. 22546, Al Hakim No. 2212, katanya: shahih. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahihul Jami’ No. 3600)*

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah menjelaskan:

فيه تنبيه على أن حقوق الاَدمين والتبعات التى للعباد لا تكفرها الأعمال الصالحة وإنما تكفر ما بين العبد وربه

_Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa hak-hak yang terkait dengan manusia dan tanggungannya, tidaklah bisa dihapuskan dengan amal shalih, sebab amal shalih itu hanya menghapuskan hal-hal yang terkait antara manusia dengan Rabbnya._ *(Ikmalul Mu’lim, 6/155. Al Syarh Shahih Muslim, 6/362)*

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

والمراد به جميع حقوق العباد من نحو دم ومال وعرض فإنها لا تغفر بالشهادة وذا في شهيد البر أما شهيد البحر فيغفر له حتى الدين لخبر فيه

_Maksud hutang di sini adalah semua hak manusia baik berupa darah, harta, dan kehormatan. Hal itu tidaklah bisa diampuni dengan mati syahid, itu untuk syahid perang darat, ada pun syahid perang laut, maka dia diampuni termasuk hutangnya, berdasarkan adanya riwayat tentang itu._

*( _Faidhul Qadir,_ 6/599)*

*3. Berhutang tapi sengaja tidak bayar maka disamakan dengan mencuri*

Dari Shuhaib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

_Laki-laki mana pun yang berhutang dan dia tidak berencana untuk membayarnya kepada pemiliknya, maka ia akan menjumpai Allah dengan status sebagai pencuri._

*(HR. Ibnu Majah No. 2401, hasan)*

Dan masih banyak bahaya lainnya … _Wal ‘Iyadzubillah!_

_Lalu, hutang atau orang berhutang yang seperti apakah yang dimaksud hadits-hadits di atas?_

_Apakah semua orang berhutang lalu meninggal maka keadaannya seperti itu? Atau hanya untuk hutang tertentu?_

Hutang diatas _-yang membawa dampak buruk bagi mayit-_ *adalah hutang yang dilakukan oleh orang yang tidak berniat untuk melunasinya, padahal dia mampu.* _Ada pun bagi yang berniat melunasinya, tetapi ajal keburu menjemputnya (sebagaimana pertanyaan saudara penanya), atau orang yang tidak ada harta untuk membayarnya, dan dia juga berniat melunasinya, maka itu dimaafkan bahkan Allah Ta’ala yang akan membayarnya._

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan:

ويكون هذا فيمن له بقضاء ما عليه من الدين

_Hal ini (ancaman-ancaman dalam hadits dibatas) berlaku bagi orang yang memiliki sesuatu (mampu) untuk melunasi hutangnya._ *(Al Ikmal, 6/155)*

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وهذا مقيد بمن له مال يقضى منه دينه وأما من لا مال له ومات عازمًا على القضاء فقد ورد في الأحاديث ما يدل على أن اللَّه تعالى يقضي عنه

_Ini terkait pada siapa saja yang memiliki harta yang dapat melunasi hutangnya. Ada pun orang yang tidak memiliki harta dan dia bertekad melunaskannya, maka telah ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan melunasi untuknya._ *(Nailul Authar, 4/23)*

Juga dikatakan oleh Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

ويحتمل أن ذلك فيمن استدان ولم ينو الوفاء

_Yang demikian itu diartikan bagi siapa saja yang berhutang namun dia tidak berniat untuk melunasinya_. *(Subulus Salam, 3/51)*

Ini juga dikatakan Imam Al Munawi:

والكلام فيمن عصى باستدانته أما من استدان حيث يجوز ولم يخلف وفاء فلا يحبس عن الجنة شهيدا أو غيره

_Perbincangan tentang ini berlaku pada siapa saja yang ingkar terhadap hutangnya. Ada pun bagi orang yang berhutang dengan cara yang diperbolehkan dan dia tidak menyelisihi janjinya, maka dia tidaklah terhalang dari surga baik sebagai syahid atau lainnya._ *(Faidhul Qadir, 6/ 559)*

Ada beberapa riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan bahwa orang yang berhutang lalu dia wafat dalam keadaan tidak ada kemampuan, padahal berniat untuk melunasinya maka Allah Ta’ala yang akan membayarkannya.

Dari Maimunah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا

_“Tidaklah seorang muslim berhutang, dan Allah mengetahui bahwa dia hendak menunaikannya, melainkan Allah Ta’ala akan menunaikannya di dunia.”_

*(HR. Ibnu Majah No. 2408, An Nasa’i No. 4686, Shahih. Lihat Shahihul Jami’ No. 5677)*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

_“Barangsiapa mengambil harta manusia dan dia hendak melunasinya, maka niscaya Allah akan melunaskan baginya. Barangsiapa yang mengambil lalu hendak menghancurkannya maka Allah akan menghancurkan dia.”_

*(HR. Bukhari No. 2387)*

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu’Ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman

❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id

Berjalan Mendekati Sutrah Di Saat Shalat

🍃🌸 Berjalan Mendekati Sutrah Di Saat Shalat🌸🍃

💢💢💢💢💢💢💢💢

[29/1 12.19] +62 811-4855-xxx: assalamu’alaikum. ustadz yg dirahmati Allah, kadang saya melihat orang yg shalat sbg masbuq ketika orang yg shalat persis di depannya (shaf paling depan di hadapan dinding) selesai dan pindah tempat, yg masbuq ini shalatnya berjalan maju ke depan. apakah yg spt begini memang dicontohkan oleh Rasulullah atau sahabatnya?

▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Hal itu tidak disyariatkan, walau tidak juga terlarang jika melangkahnya tidak banyak.

Biasanya, dia melangkah itu dalam rangka mendekat ke sutrah (pembatas dalam shalat). Agar orang tidak ada yang lewat. Padahal orang lewat tidaklah membatalkan shalanya, walau orang lewat itu bersalah.

Dalam fatwa Darul Ifta’ disebutkan:

ثم إن مفسدة المشي في الصلاة أعظم من مرور المار بين يدي المصلي؛ لأن مشي المصلي قد يكون سببًا في بطلان صلاته، خلافا للمرور. وقد نقل الإمام النووي الاتفاق على عدم مشي المصلي لدفع المار بينه وبين سترته، معللا ذلك باحتمال بطلان صلاته بالمشي، فمن باب أولى منع المشي في الصلاة لاتخاذ سترة.

Sesungguhnya kerusakan gara-gara dia berjalan saat shalat lebih besar dibanding lewatnya sesuatu dihadapannya. Sebab, berjalannya seorang yang shalat bisa menjadi sebab batalnya shalat, berbeda dengan orang yg lewat.

Imam An Nawawi telah menukil adanya kesepakatan ulama tentang tidak adanya berjalan untuk mencegah orang lewat di antara dirinya dan sutrahnya. Alasannya adalah kemungkinan batalnya shalat karena berjalan. _Maka, berjalan untuk mengambil sutrah saat shalat lebih utama untuk ditiadakan._ *(Darul Ifta, no. 2871)*

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

اتفقوا على أنه لا يجوز له المشي إليه من موضعه ليرده، وإنما يدفعه ويرده من موقفه؛ لأن مفسدة المشي في صلاته أعظم من مروره من بعيد بين يديه، وإنما أبيح له قدر ما تناله يده من موقفه، ولهذا أمر بالقرب من سترته، وإنما يرده إذا كان بعيدا منه بالإشارة والتسبيح

_Para ulama sepakat, tidak boleh bagi orang yang shalat berjalan dari tempatnya untuk menolak orang yang lewat di hadapannya, sesungguhnya mencegah itu hendaknya dari tempat dia berdiri saja. Sebab, kerusakan jika dia berjalan itu lebih besar dibanding siapa pun yang lewat di hadapannya._

_Sesungguhnya yang dibolehkan hanyalah sejauh yang bisa dicapai oleh tangannya saja dari tempatnya. Begitulah dia diperintahkan mendekat sutrahnya. Ada pun yang jauh cukuplah dengan isyarat dan tasbih._

*(Syarah Shahih Muslim, 4/223)*

Oleh karena itu, disebutkan lagi:

وعليه فإذا سلّم الإمام من صلاته فلا يشرع للمسبوق المشي لاتخاذ السترة، قياسا على الاتفاق الذي نقله النووي رحمه الله، خاصة وأن بعض الفقهاء قالوا إن سترة الإمام تبقى سترة للمأموم حتى بعد سلام الإمام.

_Oleh karenanya, jika imam telah salam maka bagi masbuq tidaklah disyariatkan berjalan mendekati sutrah. Ini Qiyas atas kesepakatan yang dikutip oleh Imam An Nawawi Rahimahullah, istimewanya lagi *sebagian ahli fiqih mengatakan sutrahnya imam adalah sutrahnya makmum juga walau pun imam sudah salam*._

*(Darul Ifta’, no. 2871)*

Sementara itu, Sebagian ulama berpendapat mendekat ke sutrah tetap disyariatkan walau di dalam shalat, di saat sutrah itu lenyap. Inilah pendapat Malikiyah, dan sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Masyhur Hasan Salman Hafizhahullah. Alasannya adalah keumuman dalil agar shalat mendekati sutrah. Dalil lain, kasus dimasa Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam, bahwa Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam berjalan mendekat sutrah saat shalat ketika ada seekor kambing hendak lewat dihadapannya saat Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam sedang shalat.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman

❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id

Nenek-nenek Boleh Buka Aurat?

🍃🌸 Nenek-nenek Boleh Buka Aurat?🌸🍃

💢💢💢💢💢💢💢💢

[20/1 00.29] +62 853-4932-xxxx:

Assalamualaikum ust benarkah ada syarat wanita tidak wajib lagi berjilbab, yaitu perempuan tua yg suda tidak bisa punya anak dan tidak bergairah lagi bagi laki laki. Ada disalah satu ceramah sy dengar

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Tidak ada ulama yang mengatakan demikian. Itu keliru dan salah paham terhadap perkataan ulama.

Yang ada adalah, menurut para ulama yang mewajibkan cadar, mereka memberikan keringanan bagi wanita yg sdh tua untuk menampakkan wajahnya, bukan menampakkan auratnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

_Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), *maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka* dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui._

(QS. An-Nur, Ayat 60)

Imam Al Jashash Rahimahullah menjelaskan:

لا خلاف في أن شعر العجوز عورة لا يجوز للأجنبي النظر إليه كشعر الشابة , وأنها إن صلت مكشوفة الرأس كانت كالشابة في فساد صلاتها , فغير جائز أن يكون المراد وضع الخمار بحضرة الأجنبي . إنما أباح للعجوز وضع ردائها بين يدي الرجال بعد أن تكون مغطاة الرأس , وأباح لها بذلك كشف وجهها ويدها ; لأنها لا تشتهى

_*Tidak ada perbedaan pendapat*, bahwa rambut wanita tua (nenek-nenek) adalah aurat, tidak boleh laki-laki bukan mahramnya melihatnya sebagaimana kepada wanita muda._

_Dia pun jika shalat kelihatan rambutnya maka shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Maka TIDAK BOLEH memaksudkannya dengan menanggalkan Khimar (kerudungan) dihadapan laki-laki bukan mahramnya._

_Sesungguhnya dibolehkannya dibuka dihadapan laki-laki bukan mahram adalah tangannya dan wajahnya, sedangkan kepalanya tetap tertutup. Karena dia tidak lagi bersyahwat._

(Ahkamul Quran, 3/485)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:

فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ..

_Maka, mereka (para wanita tua) boleh membuka wajahnya jika aman dari bahaya, baik bahaya karenanya dan bahaya atas dirinya.._

(Tafsir As Sa’diy, Hal. 670)

Kesimpulannya, wanita tua dan muda sama-sama wajib menutup auratnya saat di hadapan laki-laki bukan mahram. Hanya saja bagi ulama yang berpendapat wajah wanita harus ditutup, mereka memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah tidak memiliki syahwat, untuk membuka wajahnya.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman

❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id

Beberapa permasalahan Umroh yg harus diketahui kaum wanita … (Suami juga boleh tahu)

🍀🌷Beberapa permasalahan Umroh yg harus diketahui kaum wanita … (Suami juga boleh tahu)🌷🍀🌷

💢💢💢💢💢💢💢

📌 *Mau Umroh tapi haid, gimana nih?*

– Tetap ikut miqot bersama jamaah lain. Yg didahului oleh mandi dan berihrom.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

الحائض إذا مرت على الميقات وهي تريد الحج أو العمرة وجب عليها أن تحرم من الميقات ولا يجوز لها تأخير الإحرام حتى تصل إلى مكة وتطهر .

_Wanita haid jika melewati miqot dan dia hendak haji atau umroh, maka WAJIB baginya berihrom di miqot, dan TIDAK BOLEH baginya menunda ihromnya sampai ke Mekkah dan suci._

وقد دلت السنة وإجماع العلماء على أن الحيض لا ينافي الإحرام ، فتحرم المرأة وهي حائض ثم لا تؤدي العمرة حتى تطهر وتغتسل .

_Hal ini ditunjukkan oleh Sunnah dan Ijma’ (konsensus) ulama, bahwa HAID tidaklah menafikan ihrom, maka wanita haid hendaknya berihrom lalu dia tidak umroh dulu sampai suci dan mandi._

*(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 49992)*

Dalilnya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ حِينَ نُفِسَتْ بِذِي الْحُلَيْفَةِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَتُهِلَّ

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu’Anhuma, yakni terkait dengan hadits Asma binti Umais saat ia melahirkan di Dzulhulaifah (Bir Ali) bahwa *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu, agar ia (Asma) mandi (untuk ihrom) dan berniat Ihrom.*

(HR. Muslim no. 1210)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَفِيهِ : صِحَّة إِحْرَام النُّفَسَاء وَالْحَائِض , وَاسْتِحْبَاب اِغْتِسَالهمَا لِلإِحْرَامِ اهـ .

_Dalam hadits ini menunjukkan SAH-nya ihrom bagi wanita nifas dan haid, dan disunnahkan bagi mereka MANDI IHROM._

*(Syarh Shahih Muslim, 8/133)*

Kemudian, kalau sudah suci barulah dia mandi, lalu lanjutkan umrohnya tanpa miqot lagi .. , _jadi tinggal thawaf, sa’i, dan tahallul._

📌 *Bagaimana Kalau Haidnya Muncul menjelang Thawaf atau Pas Thawaf?*

Dia tahan thawafnya, sampai nanti suci lalu mandi dr haidnya itu, barulah ia thawaf setelah mandi dari haidnya.

Dalilnya, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَدَعِي الْعُمْرَةَ

Setibanya aku di Makkah, kebetulan aku haid, sehingga aku tidak thawaf di Baitullah dan tidak sa’i antara Shafa dan Marwa. Hal itu kulaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: “Lepas sanggulmu dan bersisirlah. Kemudian teruskan ihrammu untuk haji dan tinggalkan umrah.” *(HR. Muslim no. 1211)*

Dalam hadits lain:

الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى الْوَقْتِ تَغْتَسِلَانِ وَتُحْرِمَانِ وَتَقْضِيَانِ الْمَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ

“Wanita yang mengalami haidh atau nifas apabila mendatangi miqat maka mereka mandi dan melakukan ihram serta melaksanakan seluruh ibadah haji kecuali thawaf di Ka’bah.

(HR. Abu Daud no.1744, shahih)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

فِي هَذَا دَلِيل عَلَى أَنَّ الْحَائِض وَالنُّفَسَاء وَالْمُحْدِث وَالْجُنُب يَصِحّ مِنْهُمْ جَمِيع أَفْعَال الْحَجّ وَأَقْوَاله وَهَيْئَاته إِلا الطَّوَاف وَرَكْعَتَيْهِ , فَيَصِحّ الْوُقُوف بِعَرَفَاتٍ وَغَيْره كَمَا ذَكَرْنَا , وَكَذَلِكَ الأَغْسَال الْمَشْرُوعَة فِي الْحَجّ تُشْرَع لِلْحَائِضِ وَغَيْرهَا مِمَّنْ ذَكَرْنَا . وَفِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ الطَّوَاف لا يَصِحّ مِنْ الْحَائِض , وَهَذَا مُجْمَع عَلَيْهِ

Dalam hadits ini terdapat dalil, bahwa orang yang HAID, NIFAS, HADATS, JUNUB, adalah SAH melakukan semua aktifitas haji baik perkataan dan perbuatan, KECUALI thawaf dan shalat dua rakaat (di maqam Ibrahim). SAH pula wuquf di arafah sebagaimana yang telah kami sebutkan. Demikian juga disyariatkan mandi bagi yang haji, dan mandi bagi yg haid dan lainnya seperti yg kami sebutkan.

_Dan ini menjadi dalil bahwa thawaf tidak sah bagi yang haid. Ini permasalahan yang telah disepakati ulama._

*(Ibid, 8/146-147)*

Demikian. Semoga bermanfaat ..

Wallahu a’lam

🌸🍃🌷🌿🌻💐🍄🍂

✍ Farid Nu’man Hasan

🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman

❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id

%d bloggers like this: