Category Archives: Reflection

Percakapan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan

Memilih pasangan hidup memang menjadi salah satu keputusan terpenting dan terberat dalam hidup. Kita harus berkompromi dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Permasalahan ini juga sempat saya hadapi. Catatan percakapan pada tahun 2009, 2010, dan 2011 berikut mungkin menjadi percakapan yang sangat berpengaruh pada pernikahan saya pada 2012. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat, dan dijauhkan dari semua rasa bangga.

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu nasihat”. (HR Muslim)


Percakapan pertama, 9 Juli 2009 19:12

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Pak Fanar, apa kabar? Alhamdulillah bisa bersilaturrahmi kembali walaupun hanya melalui internet. Terima kasih sudah di-add di facebook.
Begini Pak, saya mau mohon nasihat dari bapak mengenai pernikahan. Berikut ini beberapa hal yang selalu mengganjal dalam hati saya, mohon jawaban, dan “disertai alasan”:

1. Mana yang harus didahulukan? menikah, mencari ilmu/gelar S2, atau harta untuk membeli rumah dll?

Tanyakan ke dirimu sendiri, Karfi! bila ente dah gak bisa menahan nafsu, maka nikah adalah wajib. tetapi bila masih bisa menahan nafsu, maka masih sunah or mubah. menurutku sih ilmu (ke S2) lebih baik, dibandingkan menimbun harta di properti. rumah bisa dibicarakan dg istri & keluarga nanti setelah menikah.

2. Apa tandanya kita sudah siap dan harus untuk menikah?

fisik/jasmani, psikis/rohani, harta/maal utk menghidupi keluarga nanti.

3. Kapan mulai menjemput jodoh? ketika sudah siap atau sambil mempersiapkan sudah mulai mencari-cari?

bila antum sudah siap, dan antum punya ustadz, diskusikan dengan ustadz antum. insyaAlloh itu lebih baik! masih ikut ngaji nggak antum?

Nomor 4 dan 5 di-skip karena sensitif 🙂

6. Seberapa perlu kita mencari harta, dan seberapa ukurannya untuk siap
menikah?

minimal utk mahar ke calon istri, dan bantuan walimah sekedarnya ke keluarga istri, kalo walimah diadakan oleh keluarga calon istri tsb.

7. Mengingat bapak juga seorang PNS, bagaimana caranya mengatur keuangan agar bisa mewujudkan memiliki sebuah rumah yang besar, mobil yang bagus, ,membimbing istri dan membesarkan anak-anak. Saya masih belum punya gambaran dari mana mengusahakannya?

hanya dari gaji PNS saja tidak cukup. punyailah suatu kompetensi, yang dibutuhkan oleh orang lain, shg dg menjadi Tenaga Ahli, mengisi seminar, menjadi instruktur, dosen dsb … itu merupakan tambahan yang tidak kecil artinya. Kalo antum punya jiwa bisnis, bisa membangun bisnis dengan teman, keluarga, kolega yang antum percayai. jadi intinya, jangan hanya mengandalkan dari gaji PNS saja, bila remunerasi PNS masih seperti saat ini. Lain bila gaji telah diukur dengan kompetensi kita nanti, dan mencukupi untuk kebutuhan keluarga, maka kita bisa lebih fokus pada pekerjaan kita sbg PNS.
Yakinlah, Allah SWT telah menaqdirkan rizki untuk diri kita, keluarga kita bahkan untuk anak-anak kita (kita? yang dah nikah tentunya), sebagaimana Dia telah menanggung rejeki untuk setiap makhluk-Nya. Dan … kita harus berikhtiar untuk mendapatkannya!

Oche, sukses untuk kita semua. InsyaAlloh. lanjutkan! 😀

Sementara itu yang masih teringat, mungkin masih ada lagi pertanyaan
yang akan menyusul. Sebelumnya Jazakulumullah Khairan Katsir.

“Khairunnaas anfa’hum linnaas”

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Arief Karfianto


A. Fanar Syukri, Ph.D
Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

 

** sejak percakapan ini, saya putuskan untuk menyelesaikan S-2, menabung sekadarnya, menekuni satu keahlian, dan ingin menikah melalui ta’aruf dengan perantara guru ngaji.

—-

Percakapan kedua, 26 Oktober 2010 14.33

Assalamu ‘alaikum wr.wb. pak Fanar, apa kabar? semoga sehat selalu..

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pak, mengenai kriteria se-kufu’ dalam memilih calon istri.
Dalam kitab Fiqh Sunnah (Sayyid Sabiq) dibahas dalam satu bab sendiri tentang kufu’ ini.
Yang saya pahami dalam buku itu, menurut sebagian besar ulama, intinya kufu’ dalam Islam artinya setara dalam masalah agama, bukan nasab (suku/keturunan), kekayaan, pendidikan, dll. Seperti halnya Rasulullah yang menikahkan putri-putrinya yang tentunya oleh masyarakat Arab dianggap suku yang terhormat dengan Sahabat yang berasal dari suku lain. Karena memang bukan pada permasalahan sukunya tetapi karena agamanya.

Kemudian dalam terjemahan kitab Al Hikam (Ibn Ataillah) ada bagian yang menyebutkan menunggu sesuatu yang belum tentu datang dan melepaskan yang sudah jelas adalah suatu kebodohan.

Lalu pertanyaan saya, ketika seorang lelaki muslim kemudian mencari istri yang berasal dari suku yang sama, dengan harapan agar kedua keluarga dapat lebih erat, saling memahami, budaya, adat istiadat, dan bahasa yang tidak terlalu jauh berbeda sehingga lebih akrab, dan tidak sama sekali bermaksud menganggap wanita dari luar sukunya itu lebih rendah. Tetapi karena mengharapkan kenyamanan dan komunikasi yang lebih baik. Dan dalam mencarinya pun tetap mengutamakan agamanya, apakah itu salah pak?

Bagaimana menurut bapak?

Terima kasih sebelumnya,
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wass wr wb.
Alhamdulillah bi khoir, kami sekeluarga senantiasa dalam lindungan Alloh SWT, sehat-walafiat, tidak kurang suatu apa. Semoga antum dkk juga demikian. Amiiin.

Ya, istilah kufu diartikan sederajat, baik agama-nya, kecantikan/kegantengannya, kekayaan, maupun nasab-nya. Itu yang ideal. Kalau semuanya tidak bisa kufu? paling tidak ya kufu/sederajat agama-nya, yaitu bila calon suami adalah orang sholeh, yg ikut ngaji, hapal 3 juz; ya calon istri-nya juga sholehah, ikut ngaji, hapal 1 atau 2, syukur 3 juz juga. 🙂 sepadan-lah.

Mengenai pemilihan calon suami/istri se-suku, itu tidak menjadi masalah, apalagi misalnya ada permintaan dari orang tua agar mencari pasangan dari suku yang sama, selama tidak melanggar syar’i, diperbolehkan (bahkan akan lebih baik) untuk dituruti.

Jadi, bila antum telah memilih agama-nya (wajib), maka suku, nasab, kekayaan … itu sekedar opsi saja. Sesuai dengan harapan ya syukur, kalau tidak; engkau tetap akan bisa bahagia bila telah memilih calon istri karena faktor agama-nya. OK? Selamat mencari pasangan hidup yang sederajat agama-nya. Laki-laki sholeh untuk wanita-wanita sholehah, Bro! 🙂 Semoga bisa mewujudkan keluarga asmara! (as-sakinah mawaddah wa rahmah!) amiiiin. jangan lupa ngundang saya lho,ya; kalau memungkinkan hadir, insyaAlloh akan diusahakan bisa hadir, memberikan doa & restu. 🙂

wass wr wb

** sejak percakapan ini, saya tidak lagi memaksakan diri harus menikah dengan orang jawa, asalkan baik agamanya.

—–

Percakapan ketiga, 20 Juni 2011 11.25

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Apa kabar pak Fanar? semoga senantiasa sehat wal ‘afiat dan dalam limpahan rahmat Allah swt.

Saat ini saya sedang menjalani proses ta’aruf dengan seorang akhwat. Alhamdulillah setelah beberapa kali istikharah, ada kemantapan hati untuk tetap melanjutkan. Dan puji syukur kepada Allah swt, calon ini insyaAllah agama dan akhlaknya baik. Dari suku sunda, dan Allah memberi kemudahan karena orang tua tidak mempermasalahkannya.

Tadi malam saya melaksanakan Nadzor dipertemukan dengan murabbi dan murabbiah akhwat tsb, dan alhamdulillah lancar. Saya mulai berpikir untuk persiapan pernikahan. Saya punya beberapa pertanyaan dan ingin meminta pendapat pak Fanar sebagai guru saya:

Pertanyaan nomor 1 di-skip lagi karena sensitif 😀

2. Menyadari kesibukan saya di tempat kerja, saya memiliki keinginan agar istri nantinya menjadi ibu rumah tangga di rumah saja (semoga Allah mencukupi rizki kami kelak). Saya ingin meminta motivasi dan pengalaman pak fanar mengenai istri yang menjadi ibu rumah tangga. Supaya saya bisa lebih memantapkan hati saya, dan terhindar dari kekhawatiran disebabkan cerita orang-orang tentang permasalahan ekonomi dsb.

Afwan bila saya banyak bertanya ya Pak. Mohon bimbingan semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah seperti bapak.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah kami sekeluarga sehat-walafiat akhi. semoga antum dan keluarga besar juga demikian. Amiin x3.
Mabruk akhi, semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi langkah-langkah baik antum. Amiin x3. Senang sekali, antum masih mau konsultasi ke saya. 🙂 Saya jawab secara normatif saja, sepanjang pengetahuan saya saja ya. 😀

 

2. Istri di rumah saja atau bekerja, perlu pula antum syuro-kan dengan istri. Bila telah ada anak, idealnya sih istri yang merawat, mendidik dan membesarkannya di rumah. Apalagi bila secara ekonomi, Antum sbg kepala keluarga, bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Tetapi bila istri antum punya potensi, dan ingin dimanfaatkan pula untuk masyarakat dan umat; perlu difasilitasi bukan? Bisa bekerja di rumah, atau pun di luar rumah sekali pun, asal akhlaq & hubungan di tempat kerja terjamin tidak ada fitnah. Setelah menikah, belum ada anak … kemudian antum meminta istri di rumah saja, apa yang akan dilakukannya, saat antum bekerja? 🙂 lebih2 bila antum kerjanya dari pagi sampai malam, …. aduhai alangkah kesepiannya menunggu, menunggu & menunggu. Jadi, saran saya …. syuro-kan bainakuma. Tak ada yang lebih baik dari syuro, saling terbuka, dan mencari jalan keluar bersama-sama, diniati dengan keikhlasan dan bersama mencari Ridho Alloh di dunia & akherat. 🙂

OK, Bro? Semoga Alloh SWT memudahkan urusan antum khususnya, dan kita semua. Senang sekali ana dengar antum menyegerakan pernikahan, melengkapi separoh agama antum. Barokallohu fiikum akhi.

Teriring salam penuh kebahagiaan,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
AFS

** sejak percapakan ini, saya memutuskan kelak akan bermusyawarah dengan istri mengenai pekerjaannya, apakah pada situasi tersebut lebih baik tetap bekerja atau berhenti. Ternyata pada kondisi kami saat itu,  istri berhenti dari pekerjaan adalah pilihan terbaik.

 

Alhamdulillah, dari percakapan itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk melawan mitos-mitos sosial yang sempat membebani saya dan tidak ada dasarnya dalam agama:

  • Suami dan Istri harus bekerja di luar (dulu istri saya pegawai swasta dan kini menjadi ibu rumah tangga sejak kelahiran anak pertama)
  • Menikah dengan suku yang sama (saya dari suku jawa dan istri saya dari sunda)
  • Anak ke 1 dengan anak ke 3 tidak baik dalam adat jawa (saya anak pertama dan istri anak ketiga)
  • Istri di rumah, ekonomi susah (alhamdulillah kami selalu merasa cukup dan bersyukur atas nikmat-Nya)

Semoga bermanfaat dunia akhirat.

Wollongong, NSW

Advertisements

Bulan Rajab dan Isra- Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w.

Pukul 12.20 saya berangkat menuju masjid Omar untuk melaksanakam sholat Jum’at. Di sini, meskipun waktu dzuhur saat ini masuk pada pukul 11.54, namun khutbah tetap dimulai pukul 12.50, waktu istirahat para pekerja, dan selesai sekitar pukul 13.30. 


Khutbah Jum’at yang disampaikan dalam dua bahasa, Arab dan Inggris secara selang-seling, kali ini mengenai peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang terjadi pada 27 Rajab ini merupakan pemberian dari Allah kepada nabi untuk mengobati kesedihan beliau karena wafatnya dua orang yang sangat dikasihinya, yakni paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah r.a.   

Pada suatu hari menjelang shubuh, Jibril a.s. membangunkan Nabi untuk menuju keluar masjidil haram di Mekkah dan memperlihatkan buroq, sejenis hewan berukuran antara kuda dan keledai. Sekejap waktu kemudian, dengan mengendarai buroq, Nabi telah sampai di masjidil aqsa di Jerusalem. Di sana, Rasulullah memimpin sholat shubuh, mengimami para nabi sebelumnya. Dengan ini Allah menunjukkan keutamaan Rasulullah Muhammad di atas nabi sebelumnya dan merupakan nabi yang terakhir. 

Selepas sholat, Jibril mengajak kembali Nabi Muhammad untuk menuju ke langit. Di setiap langit, Jibril mengetuk pintu dan mengucap salam hingga pintu langit dibuka. Di setiap langit hinga langit ke tujuh, ada nabi-nabi sebelumnya. Melewati langit ke tujuh, Jibril tidak lagi menemani Nabi untuk naik sehingga hanya Nabi Muhammad yang memasukinya. Di sanalah Allah swt menyampaikan ‘hadiah’ berupa perintah sholat yang awalnya 50 waktu. Ketika Rasul turun dan bertemu nabi Musa, beliau menyampaikan bahwa 50 terlalu banyak untuk ummat Nabi Muhammad, sehingga beliau meminta pengurangan kepada Allah. Beberapa kali proses tersebut berulang hingga akhirnya jumlahnya menjadi 5 waktu namun dengan kebaikan yang sama seperti 50 waktu. 

Mendengarkan khutbah ini, mengingatkan kembali bahwa sholat dapat membawa kebahagiaan kepada orang yang melaksanakannya sesuai tuntunan agama. Menutup khutbah, khotib menyampaikan sebagai umat Islam, kita dapat melaksanakan Isra dengan cara bangun sebelum shubuh, meninggalkan tempat tidur, berwudhu dan menuju tempat sholat. Lalu kita melaksanakan Mi’raj dengan melaksanakan sholat. Semoga kita dan anak cucu kita menjadi muslim yang senantiasa menegakkan sholat. 

Asshalaatu mi’rajul mu’miniin

Perjalanan Kehidupan Manusia

Beberapa saat yang lalu, ada seorang teman yang mengirimkan sebuah gambar di salah satu grup WhatsApp. Gambar ini berjudul ‘Perjalanan Kehidupan Manusia’.


Di gambar itu diilustrasikan posisi kita saat ini yaitu di alam dunia, yang merupakan fase ketiga setelah alam ruh dan alam kandungan. Mungkin sering kita lupa, bahwa alam dunia atau kehidupan kita ini bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Masih ada banyak fase lainnya yakni alam kubur, kiamat, hari kebangkitan, padang mahsyar, syafaat, hisab, penyerahan catatan amal, yaumul mizan, melewati telaga dan sirat, sebelum akhirnya sampai di tempat terakhir, surga dan neraka. Allah menjanjikan bagi siapa pun yang memiliki iman di dalam hatinya akan dimasukkan ke dalam surga. Namun, Allah swt juga mengingatkan bagi siapa pun yang melanggar larangan-Nya akan memperoleh siksa di neraka.

Hal ini menyadarkan kita, apa yang seharusnya menjadi target kita dalam kehidupan dunia ini. Keimanan dan amal shalih kita lah yang menjadi teman sekaligus bekal manusia di hari kemudian. Maka sudah sepantasnya saya memikirkan kembali visi dan misi dalam hidup yang singkat ini, menyiapkan yang terbaik sesuai tuntunan agama.

Selanjutnya, ada tiga bekal tambahan yang bisa kita usahakan, yang memberikan manfaat untuk kita bahkan setelah kita tidak lagi hidup di dunia. Yang pertama adalah anak yang shalih dan shalihah, karena do’a mereka akan memberi kebaikan bagi orang tuanya. Kedua, amal jariyah, amal yang bermanfaat bagi makhluk lainnya bahkan setelah kita tiada, pahalanya insyaAllah akan tetap mengalir untuk orang yang mengeluarkannya. Lalu yang ketiga, ilmu yang bermanfaat, ilmu yang sebelumnya kita cari lalu kemudian kita sebarkan sehingga orang lain memperoleh kebaikan dari ilmu tersebut.

Marilah kita saling mengingatkan tentang hari akhir. Juga mari berlomba berbuat kebaikan untuk mencari pahala sebanyak mungkin, meninggalkan dosa agar Allah ridho kepada kita dan memasukkan kita ke surga-Nya dan menjauhkan dari neraka-Nya. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak-anak kita menjadi muslim yang shalih dan shalihah, mencari harta yang halal, baik dan banyak untuk sebesar-besarnya kemaslahatan orang banyak, serta giat mencari ilmu, mengamalkan serta mengajarkannya kepada orang lain. Mudah-mudahan Allah membimbing kita untuk istiqomah di jalan agama-Nya. Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Allaahumma a-inna ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika.

Look Up

‘Look Up’ – A spoken word film for an online generation.

‘Look Up’ is a lesson taught to us through a love story, in a world where we continue to find ways to make it easier for us to connect with one another, but always results in us spending more time alone.

Me version 26

Alhamdulillah, di usia sekarang ini, saya sudah menjadi seorang suami dan dikaruniai oleh Allah swt seorang putri cantik bernama Safanah Rizqi Kamila pada 24 April 2013. Kami memanggilnya Safa.

safa

Ia menjadi kado terindah di hari ulang tahunku.

Senantiasa kami panjatkan do’a:

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

 

%d bloggers like this: