e-KTP yang rumit

Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan banyak berita terkait kasus KTP elektronik. Sepertinya kasus korupsi e-KTP ini sangat rumit dan proses hukumnya pun masih panjang.

Kerumitan e-KTP ternyata tidak hanya di sisi korupsi pengadaannya. Sistem di lapangan, khususnya sistem e-KTP dan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) pada umumnya, ternyata sangat rumit. Entah, apakah kerumitan sistem itu karena desainnya yang kurang baik, atau implementasinya tidak mengikuti desain karena anggarannya sudah dikorupsi. Yang jelas, di banyak sisi, sistem e-KTP perlu perbaikan yang signifikan. Proses pelayanan e-KTP di berbagai tingkat tingkat kota (namanya PTSP) juga masih jauh dari kata efektif dan efisien.

Saya merasakan bagaimana rumitnya pembuatan e-KTP. Saya melakukan rekam data e-KTP pada tahun 2012. Kemudian, tahun 2013, untuk keperluan pindah domisili, pertama-tama dilakukan proses pisah KK. Pada proses ini, ada perbaikan bulan lahir sekaligus pembuatan NIK lain yang berbeda dengan NIK pada saat perekaman e-KTP. Mulai dari pengurusan surat pengantar RT, RW, kelurahan cempaka putih barat, hingga tingkat kota Jakarta Pusat saya lalui, dan akhirnya NIK berhasil dipindahkan ke Depok, Jawa Barat. Akhirnya, KTP dan KK Depok pun keluar, tetapi belum e-KTP karena pada saat itu katanya blanko e-KTP tidak ada di kelurahan. Saya diminta untuk mencoba datang lagi setelah beberapa bulan. Bulan demi bulan berlalu, hingga tahun ini, 2017 saya mencoba lagi untuk mengurus e-KTP. Alhamdulillah blanko sudah ada.

Tragis, saat hendak dicetak, NIK yang 4 tahun lalu dipindahkan ke Depok ternyata bukan yang memiliki rekam data e-KTP. NIK e-KTP masih ada di Jakarta Pusat. Menemukan kontak orang yang bisa ditanyai mengenai hal ini juga tidak mudah. Banyak kontak/telepon yang beredar ternyata tidak bisa dihubungi. Sampai akhirnya ketemu nomor call center Dukcapil Kemendagri yang bisa dihubungi.

Berbagai kontak instansi pemerintah

Setelah menunggu sekitar 15 menit untuk loading aplikasi yang hang, Operator e-KTP kelurahan Jatimulya pun menyampaikan, saya harus ke Jakarta Pusat dan meminta agar NIK e-KTP yang ada di sana dipindahkan juga ke Depok. Pergilah saya ke sana, mumpung belum masuk kerja. Sesampainya di kantor Walikota Jakarta Pusat, oleh petugas PTSP saya diminta langsung ke gedung D lantai 2 untuk bertemu operator e-KTP tingkat walikota. Setelah bertemu operatornya, dia menyampaikan bahwa NIK e-KTP tidak bisa langsung dipindahkan karena terkunci. NIK yang sudah terlanjur dipindahkan ke Depok harus dikembalikan ke Jakpus untuk kemudian di proses agar NIK e-KTP bisa dipindahkan ke Depok. Prosesnya pun harus mengikuti proses normal menggunakan surat pindah. Jadi saya harus pindah secara administrasi dari Depok kembali ke Jakarta Pusat, lalu dari Jakarta Pusat pindah lagi ke Depok. Semoga Anda belum pusing sampai sini ya. Cerita saya lanjutkan….

Bapak operator Jakarta Pusat menelpon operator e-KTP Depok mengenai kronologisnya dan meminta saya bertemu dengan rekannya tersebut sambil menulis pesan pada secarik kertas. Kertas bertulis tangan tersebut saya antar ke walikota depok. Operator e-KTP kemudian menulis kembali pada secarik kertas dan meminta saya mengantarkan lagi kertas tersebut ke pelayan di loket pelayanan pindah WNI lantai 1. Ini dikenal dengan teknologi ‘Antarnet’. Setelah kertas saya berikan, saya menerima kertas biru untuk pengambilan surat pindah dari Depok ke Jakarta. Saya bisa mengambil 3 hari berikutnya, 15 Desember 2017.

Teknologi Antarnet

Jum’at pagi, 15 Desember saya kembali ke loket, menyerahkan kertas biru dan siap mengambil surat pindah. Malang, saya diminta untuk menulis alamat tujuan di Jakarta di secarik kertas dan diminta untuk kembali lagi hari Senin karena berkas belum jadi (pastinya, mungkin karena baru hari ini diminta alamat tujuan Jakarta). Saya menanyakan apa alasan mengapa tidak sesuai dengan waktu yang dijanjikan, pelayan menjawab server mati dan baru bisa diakses hari ini. Sebenarnya ada keinginan untuk komplain lebih jauh, tapi alasan server mati sepertinya sudah jadi alasan pamungkas yang sulit dipertanyakan…

Proses masih panjaaang….. Nanti setelah surat pindah ke Jakarta jadi, saya ke operator e-KTP Jakpus untuk memproses NIK ganda saya. Kemudian, membuat surat pindah lagi dari Jakarta ke Depok untuk memindahkan NIK e-KTP. Lalu ke kantor Walikota Depok untuk memasukkan NIK saya kembali bersama KK keluarga. Dilanjutkan ke pak RT 004 minta surat pengantar cetak KK dan e-KTP dan akhirnya ke kelurahan Jatimulya untuk cetak e-KTP dan KK. Itupun kalau semuanya lancar.

Itu hanya satu contoh case dari pengurusan e-KTP, mungkin ada banyak case lainnya yang mungkin lebih rumit. Sepertinya, proses penanganan kasus dengan cara begini, terlalu rumit untuk sebuah sistem yang katanya ‘electronic’.  Menjalani proses ini, bagi sebagian masyarakat akan sangat melelahkan dan ‘sakit’. Jadi tidak hanya para tersangka yang ‘sakit’ menjalani proses hukum. Masyarakat pun sebenarnya ‘sakit’ hanya untuk mengurus kartu yang satu ini.

Berbicara solusi, ada 3 saran dalam kerangka governance e-KTP:

  1. Structure: perlu dibuat satu unit / kantor yang menjalankan fungsi khusus pengelolalaan e-KTP, menangani hal terkait e-KTP yang memiliki kewenangan lintas daerah administrasi. Melihat keadaan sekarang, saya sarankan struktur ini tidak berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, agar lebih fokus dan powerful dalam menyukseskan program e-KTP. Sebutlah misalnya Unit Kerja Presiden bidang Percepatan Implementasi E-KTP (UKP-PIE) 🙂 . Yang jelas, semangat melayani warga negara harus menjadi organization culture dalam struktur ini.
  2. Process: perlu dibuat dokumen kebijakan berisi proses standar semua hal terkait e-KTP, termasuk special case handling. Prosesnya pun harus transparan dan dapat dibaca oleh masyarakat melalui website. Pada kasus khusus, semestinya prosesnya dihandle secara terpisah, tidak mengikuti proses normal dan harus diberi prioritas. Mengapa? Sebab dalam kasus normal, proses bisa selesai dalam 1-2 kali kedatangan atau mungkin dalam kurun waktu seminggu. Tapi dalam kasus khusus, seseorang bisa bolak balik berkali-kali, lempar sana lempar sini, menguras waktu dan biaya yang semestinya tidak perlu. Kita bisa belajar dari beberapa perusahaan swasta yang sepertinya sangat paham dengan pemberian prioritas pada special case demi memberikan customer satisfaction.
  3. Relational mechanism: Case management perlu melibatkan berbagai pihak di daerah dan level yang berbeda. Mereka perlu dikoordinir dalam suatu task force dan dalam aktivitasnya mengandalkan online system berbasis Internet, bukan lagi Antarnet berbasis kenalan. Orang-orang dalam tim ini didedikasikan khusus sebagai perwakilan organisasi yang berbeda untuk memfasilitasi dan membantu menyelesaikan masalah warga negara terkait e-KTP, dan bekerja mengikuti business process yang baku. Paradigma lama tentang pemisahan back office dan front office seperti saat ini pelan-pelan harus mulai ditinggalkan. Tidak perlu lagi pelayan loket menerima berkas, taruh di meja operator, lalu operator input, modifikasi, dan print data dan diserahkan kembali ke pelayan. Petugas front office dalam tim ini, di daerah manapun, sudah saatnya berhadapan dengan komputer, mengakses antarmuka sistem, melakukan verifikasi dan modifikasi data pada sistem yang memiliki audit trail. Tentu ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan e-KTP.

Tetep optimis, kita pasti bisa jadi lebih baik.

 

Advertisements

Percakapan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan

Memilih pasangan hidup memang menjadi salah satu keputusan terpenting dan terberat dalam hidup. Kita harus berkompromi dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Permasalahan ini juga sempat saya hadapi. Catatan percakapan pada tahun 2009, 2010, dan 2011 berikut mungkin menjadi percakapan yang sangat berpengaruh pada pernikahan saya pada 2012. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat, dan dijauhkan dari semua rasa bangga.

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu nasihat”. (HR Muslim)


Percakapan pertama, 9 Juli 2009 19:12

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Pak Fanar, apa kabar? Alhamdulillah bisa bersilaturrahmi kembali walaupun hanya melalui internet. Terima kasih sudah di-add di facebook.
Begini Pak, saya mau mohon nasihat dari bapak mengenai pernikahan. Berikut ini beberapa hal yang selalu mengganjal dalam hati saya, mohon jawaban, dan “disertai alasan”:

1. Mana yang harus didahulukan? menikah, mencari ilmu/gelar S2, atau harta untuk membeli rumah dll?

Tanyakan ke dirimu sendiri, Karfi! bila ente dah gak bisa menahan nafsu, maka nikah adalah wajib. tetapi bila masih bisa menahan nafsu, maka masih sunah or mubah. menurutku sih ilmu (ke S2) lebih baik, dibandingkan menimbun harta di properti. rumah bisa dibicarakan dg istri & keluarga nanti setelah menikah.

2. Apa tandanya kita sudah siap dan harus untuk menikah?

fisik/jasmani, psikis/rohani, harta/maal utk menghidupi keluarga nanti.

3. Kapan mulai menjemput jodoh? ketika sudah siap atau sambil mempersiapkan sudah mulai mencari-cari?

bila antum sudah siap, dan antum punya ustadz, diskusikan dengan ustadz antum. insyaAlloh itu lebih baik! masih ikut ngaji nggak antum?

Nomor 4 dan 5 di-skip karena sensitif 🙂

6. Seberapa perlu kita mencari harta, dan seberapa ukurannya untuk siap
menikah?

minimal utk mahar ke calon istri, dan bantuan walimah sekedarnya ke keluarga istri, kalo walimah diadakan oleh keluarga calon istri tsb.

7. Mengingat bapak juga seorang PNS, bagaimana caranya mengatur keuangan agar bisa mewujudkan memiliki sebuah rumah yang besar, mobil yang bagus, ,membimbing istri dan membesarkan anak-anak. Saya masih belum punya gambaran dari mana mengusahakannya?

hanya dari gaji PNS saja tidak cukup. punyailah suatu kompetensi, yang dibutuhkan oleh orang lain, shg dg menjadi Tenaga Ahli, mengisi seminar, menjadi instruktur, dosen dsb … itu merupakan tambahan yang tidak kecil artinya. Kalo antum punya jiwa bisnis, bisa membangun bisnis dengan teman, keluarga, kolega yang antum percayai. jadi intinya, jangan hanya mengandalkan dari gaji PNS saja, bila remunerasi PNS masih seperti saat ini. Lain bila gaji telah diukur dengan kompetensi kita nanti, dan mencukupi untuk kebutuhan keluarga, maka kita bisa lebih fokus pada pekerjaan kita sbg PNS.
Yakinlah, Allah SWT telah menaqdirkan rizki untuk diri kita, keluarga kita bahkan untuk anak-anak kita (kita? yang dah nikah tentunya), sebagaimana Dia telah menanggung rejeki untuk setiap makhluk-Nya. Dan … kita harus berikhtiar untuk mendapatkannya!

Oche, sukses untuk kita semua. InsyaAlloh. lanjutkan! 😀

Sementara itu yang masih teringat, mungkin masih ada lagi pertanyaan
yang akan menyusul. Sebelumnya Jazakulumullah Khairan Katsir.

“Khairunnaas anfa’hum linnaas”

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Arief Karfianto


A. Fanar Syukri, Ph.D
Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

 

** sejak percakapan ini, saya putuskan untuk menyelesaikan S-2, menabung sekadarnya, menekuni satu keahlian, dan ingin menikah melalui ta’aruf dengan perantara guru ngaji.

—-

Percakapan kedua, 26 Oktober 2010 14.33

Assalamu ‘alaikum wr.wb. pak Fanar, apa kabar? semoga sehat selalu..

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pak, mengenai kriteria se-kufu’ dalam memilih calon istri.
Dalam kitab Fiqh Sunnah (Sayyid Sabiq) dibahas dalam satu bab sendiri tentang kufu’ ini.
Yang saya pahami dalam buku itu, menurut sebagian besar ulama, intinya kufu’ dalam Islam artinya setara dalam masalah agama, bukan nasab (suku/keturunan), kekayaan, pendidikan, dll. Seperti halnya Rasulullah yang menikahkan putri-putrinya yang tentunya oleh masyarakat Arab dianggap suku yang terhormat dengan Sahabat yang berasal dari suku lain. Karena memang bukan pada permasalahan sukunya tetapi karena agamanya.

Kemudian dalam terjemahan kitab Al Hikam (Ibn Ataillah) ada bagian yang menyebutkan menunggu sesuatu yang belum tentu datang dan melepaskan yang sudah jelas adalah suatu kebodohan.

Lalu pertanyaan saya, ketika seorang lelaki muslim kemudian mencari istri yang berasal dari suku yang sama, dengan harapan agar kedua keluarga dapat lebih erat, saling memahami, budaya, adat istiadat, dan bahasa yang tidak terlalu jauh berbeda sehingga lebih akrab, dan tidak sama sekali bermaksud menganggap wanita dari luar sukunya itu lebih rendah. Tetapi karena mengharapkan kenyamanan dan komunikasi yang lebih baik. Dan dalam mencarinya pun tetap mengutamakan agamanya, apakah itu salah pak?

Bagaimana menurut bapak?

Terima kasih sebelumnya,
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wass wr wb.
Alhamdulillah bi khoir, kami sekeluarga senantiasa dalam lindungan Alloh SWT, sehat-walafiat, tidak kurang suatu apa. Semoga antum dkk juga demikian. Amiiin.

Ya, istilah kufu diartikan sederajat, baik agama-nya, kecantikan/kegantengannya, kekayaan, maupun nasab-nya. Itu yang ideal. Kalau semuanya tidak bisa kufu? paling tidak ya kufu/sederajat agama-nya, yaitu bila calon suami adalah orang sholeh, yg ikut ngaji, hapal 3 juz; ya calon istri-nya juga sholehah, ikut ngaji, hapal 1 atau 2, syukur 3 juz juga. 🙂 sepadan-lah.

Mengenai pemilihan calon suami/istri se-suku, itu tidak menjadi masalah, apalagi misalnya ada permintaan dari orang tua agar mencari pasangan dari suku yang sama, selama tidak melanggar syar’i, diperbolehkan (bahkan akan lebih baik) untuk dituruti.

Jadi, bila antum telah memilih agama-nya (wajib), maka suku, nasab, kekayaan … itu sekedar opsi saja. Sesuai dengan harapan ya syukur, kalau tidak; engkau tetap akan bisa bahagia bila telah memilih calon istri karena faktor agama-nya. OK? Selamat mencari pasangan hidup yang sederajat agama-nya. Laki-laki sholeh untuk wanita-wanita sholehah, Bro! 🙂 Semoga bisa mewujudkan keluarga asmara! (as-sakinah mawaddah wa rahmah!) amiiiin. jangan lupa ngundang saya lho,ya; kalau memungkinkan hadir, insyaAlloh akan diusahakan bisa hadir, memberikan doa & restu. 🙂

wass wr wb

** sejak percakapan ini, saya tidak lagi memaksakan diri harus menikah dengan orang jawa, asalkan baik agamanya.

—–

Percakapan ketiga, 20 Juni 2011 11.25

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Apa kabar pak Fanar? semoga senantiasa sehat wal ‘afiat dan dalam limpahan rahmat Allah swt.

Saat ini saya sedang menjalani proses ta’aruf dengan seorang akhwat. Alhamdulillah setelah beberapa kali istikharah, ada kemantapan hati untuk tetap melanjutkan. Dan puji syukur kepada Allah swt, calon ini insyaAllah agama dan akhlaknya baik. Dari suku sunda, dan Allah memberi kemudahan karena orang tua tidak mempermasalahkannya.

Tadi malam saya melaksanakan Nadzor dipertemukan dengan murabbi dan murabbiah akhwat tsb, dan alhamdulillah lancar. Saya mulai berpikir untuk persiapan pernikahan. Saya punya beberapa pertanyaan dan ingin meminta pendapat pak Fanar sebagai guru saya:

Pertanyaan nomor 1 di-skip lagi karena sensitif 😀

2. Menyadari kesibukan saya di tempat kerja, saya memiliki keinginan agar istri nantinya menjadi ibu rumah tangga di rumah saja (semoga Allah mencukupi rizki kami kelak). Saya ingin meminta motivasi dan pengalaman pak fanar mengenai istri yang menjadi ibu rumah tangga. Supaya saya bisa lebih memantapkan hati saya, dan terhindar dari kekhawatiran disebabkan cerita orang-orang tentang permasalahan ekonomi dsb.

Afwan bila saya banyak bertanya ya Pak. Mohon bimbingan semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah seperti bapak.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah kami sekeluarga sehat-walafiat akhi. semoga antum dan keluarga besar juga demikian. Amiin x3.
Mabruk akhi, semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi langkah-langkah baik antum. Amiin x3. Senang sekali, antum masih mau konsultasi ke saya. 🙂 Saya jawab secara normatif saja, sepanjang pengetahuan saya saja ya. 😀

 

2. Istri di rumah saja atau bekerja, perlu pula antum syuro-kan dengan istri. Bila telah ada anak, idealnya sih istri yang merawat, mendidik dan membesarkannya di rumah. Apalagi bila secara ekonomi, Antum sbg kepala keluarga, bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Tetapi bila istri antum punya potensi, dan ingin dimanfaatkan pula untuk masyarakat dan umat; perlu difasilitasi bukan? Bisa bekerja di rumah, atau pun di luar rumah sekali pun, asal akhlaq & hubungan di tempat kerja terjamin tidak ada fitnah. Setelah menikah, belum ada anak … kemudian antum meminta istri di rumah saja, apa yang akan dilakukannya, saat antum bekerja? 🙂 lebih2 bila antum kerjanya dari pagi sampai malam, …. aduhai alangkah kesepiannya menunggu, menunggu & menunggu. Jadi, saran saya …. syuro-kan bainakuma. Tak ada yang lebih baik dari syuro, saling terbuka, dan mencari jalan keluar bersama-sama, diniati dengan keikhlasan dan bersama mencari Ridho Alloh di dunia & akherat. 🙂

OK, Bro? Semoga Alloh SWT memudahkan urusan antum khususnya, dan kita semua. Senang sekali ana dengar antum menyegerakan pernikahan, melengkapi separoh agama antum. Barokallohu fiikum akhi.

Teriring salam penuh kebahagiaan,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
AFS

** sejak percapakan ini, saya memutuskan kelak akan bermusyawarah dengan istri mengenai pekerjaannya, apakah pada situasi tersebut lebih baik tetap bekerja atau berhenti. Ternyata pada kondisi kami saat itu,  istri berhenti dari pekerjaan adalah pilihan terbaik.

 

Alhamdulillah, dari percakapan itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk melawan mitos-mitos sosial yang sempat membebani saya dan tidak ada dasarnya dalam agama:

  • Suami dan Istri harus bekerja di luar (dulu istri saya pegawai swasta dan kini menjadi ibu rumah tangga sejak kelahiran anak pertama)
  • Menikah dengan suku yang sama (saya dari suku jawa dan istri saya dari sunda)
  • Anak ke 1 dengan anak ke 3 tidak baik dalam adat jawa (saya anak pertama dan istri anak ketiga)
  • Istri di rumah, ekonomi susah (alhamdulillah kami selalu merasa cukup dan bersyukur atas nikmat-Nya)

Semoga bermanfaat dunia akhirat.

Wollongong, NSW

Use technology to save your country

Do’a Qunut

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ
وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ
وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ،
فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ
وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ
وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allah hummah dinii fiiman hadait.
Wa’aa finii fiiman ‘aafait.

Watawallanii fiiman tawal-laiit.
Wabaariklii fiimaa a’thait.
Waqinii syarramaa qadhait.
Fainnaka taqdhii walaa yuqdha ‘alaik.
Wainnahu laayadzilu man walait.
Walaa ya’izzu man ‘aadait.
Tabaa rakta rabbanaa wata’aalait.
Falakalhamdu ‘alaa maaqadhait.
Astaghfiruka wa’atuubu ilaik.
Wasallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi. Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam.Artinya :

Ya Allah tunjukkanlah kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan
Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan
Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan
Dan berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan
Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan
Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum
Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau
Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan
Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Do’a Setelah Sholat Witir

Do’a setelah sholat Witir adalah sebagai berikut:

اَللهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًاقَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ، اَللهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَللهُ يَااَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
ALLAHUMMA INNAA NAS’ALUKA IIMAANAN DAA’IMAN, WANAS’ALUKA QALBAN KHAASYI’AN, WANAS’ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WANAS’ALUKA YAQIINAN SHAADIQON, WANAS’ALUKA ‘AMALAN SHAALIHAN, WANAS’ALUKA DIINAN QAYYIMAN, WANAS’ALUKA KHAIRAN KATSIIRAN, WANAS’ALUKAL ‘AFWA WAL’AAFIYATA, WANAS’ALUKA TAMAAMAL ‘AAFIYATI, WANAS’ALUKASY SYUKRA ‘ALAL ‘AAFIYATI, WANAS’ALUKAL GHINAA’A ‘ANINNAASI. ALLAAHUMMA RABBANAA TAQABBAL MINNAA SHALAATANAA WASHIYAAMANAA WAQIYAAMANAA WATAKHUSY-SYU’ANAA WATADHORRU’ANAA WATA’ABBUDANAA WATAMMIM TAQSHIIRANAA YAA ALLAAHU YAA ALLAAHU YAA ALLAAHU YAA ARHAMAR RAAHIMIINA. WASHALLALLAAHU ‘ALAA KHAIRI KHALQIHI MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHI WASHAHBIHI AJMA’IINA, WALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIINA.
Wahai Allah. Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang tetap, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu’, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shaleh, kami memohon kepada-Mu agama yang lurus, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang banyak, kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu syukur atas kesehatan, dan kami memohon kepada-Mu terkaya dari semua manusia. Ya Allah, Tuhan kami. Terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyu’an kami, kerendahan hati kami, ibadah kami. Sempurnakanlah kelalaian atau kekurangan kami, Wahai Allah Wahai Allah Wahai Allah Wahai Dzat yang Paling Penyayang diantara para penyayang. Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baiknya makhluk-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabatnya semua, dan segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam.
%d bloggers like this: