Category Archives: Story

e-KTP yang rumit

Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan banyak berita terkait kasus KTP elektronik. Sepertinya kasus korupsi e-KTP ini sangat rumit dan proses hukumnya pun masih panjang.

Kerumitan e-KTP ternyata tidak hanya di sisi korupsi pengadaannya. Sistem di lapangan, khususnya sistem e-KTP dan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) pada umumnya, ternyata sangat rumit. Entah, apakah kerumitan sistem itu karena desainnya yang kurang baik, atau implementasinya tidak mengikuti desain karena anggarannya sudah dikorupsi. Yang jelas, di banyak sisi, sistem e-KTP perlu perbaikan yang signifikan. Proses pelayanan e-KTP di berbagai tingkat tingkat kota (namanya PTSP) juga masih jauh dari kata efektif dan efisien.

Saya merasakan bagaimana rumitnya pembuatan e-KTP. Saya melakukan rekam data e-KTP pada tahun 2012. Kemudian, tahun 2013, untuk keperluan pindah domisili, pertama-tama dilakukan proses pisah KK. Pada proses ini, ada perbaikan bulan lahir sekaligus pembuatan NIK lain yang berbeda dengan NIK pada saat perekaman e-KTP. Mulai dari pengurusan surat pengantar RT, RW, kelurahan cempaka putih barat, hingga tingkat kota Jakarta Pusat saya lalui, dan akhirnya NIK berhasil dipindahkan ke Depok, Jawa Barat. Akhirnya, KTP dan KK Depok pun keluar, tetapi belum e-KTP karena pada saat itu katanya blanko e-KTP tidak ada di kelurahan. Saya diminta untuk mencoba datang lagi setelah beberapa bulan. Bulan demi bulan berlalu, hingga tahun ini, 2017 saya mencoba lagi untuk mengurus e-KTP. Alhamdulillah blanko sudah ada.

Tragis, saat hendak dicetak, NIK yang 4 tahun lalu dipindahkan ke Depok ternyata bukan yang memiliki rekam data e-KTP. NIK e-KTP masih ada di Jakarta Pusat. Menemukan kontak orang yang bisa ditanyai mengenai hal ini juga tidak mudah. Banyak kontak/telepon yang beredar ternyata tidak bisa dihubungi. Sampai akhirnya ketemu nomor call center Dukcapil Kemendagri yang bisa dihubungi.

Berbagai kontak instansi pemerintah

Setelah menunggu sekitar 15 menit untuk loading aplikasi yang hang, Operator e-KTP kelurahan Jatimulya pun menyampaikan, saya harus ke Jakarta Pusat dan meminta agar NIK e-KTP yang ada di sana dipindahkan juga ke Depok. Pergilah saya ke sana, mumpung belum masuk kerja. Sesampainya di kantor Walikota Jakarta Pusat, oleh petugas PTSP saya diminta langsung ke gedung D lantai 2 untuk bertemu operator e-KTP tingkat walikota. Setelah bertemu operatornya, dia menyampaikan bahwa NIK e-KTP tidak bisa langsung dipindahkan karena terkunci. NIK yang sudah terlanjur dipindahkan ke Depok harus dikembalikan ke Jakpus untuk kemudian di proses agar NIK e-KTP bisa dipindahkan ke Depok. Prosesnya pun harus mengikuti proses normal menggunakan surat pindah. Jadi saya harus pindah secara administrasi dari Depok kembali ke Jakarta Pusat, lalu dari Jakarta Pusat pindah lagi ke Depok. Semoga Anda belum pusing sampai sini ya. Cerita saya lanjutkan….

Bapak operator Jakarta Pusat menelpon operator e-KTP Depok mengenai kronologisnya dan meminta saya bertemu dengan rekannya tersebut sambil menulis pesan pada secarik kertas. Kertas bertulis tangan tersebut saya antar ke walikota depok. Operator e-KTP kemudian menulis kembali pada secarik kertas dan meminta saya mengantarkan lagi kertas tersebut ke pelayan di loket pelayanan pindah WNI lantai 1. Ini dikenal dengan teknologi ‘Antarnet’. Setelah kertas saya berikan, saya menerima kertas biru untuk pengambilan surat pindah dari Depok ke Jakarta. Saya bisa mengambil 3 hari berikutnya, 15 Desember 2017.

Teknologi Antarnet

Jum’at pagi, 15 Desember saya kembali ke loket, menyerahkan kertas biru dan siap mengambil surat pindah. Malang, saya diminta untuk menulis alamat tujuan di Jakarta di secarik kertas dan diminta untuk kembali lagi hari Senin karena berkas belum jadi (pastinya, mungkin karena baru hari ini diminta alamat tujuan Jakarta). Saya menanyakan apa alasan mengapa tidak sesuai dengan waktu yang dijanjikan, pelayan menjawab server mati dan baru bisa diakses hari ini. Sebenarnya ada keinginan untuk komplain lebih jauh, tapi alasan server mati sepertinya sudah jadi alasan pamungkas yang sulit dipertanyakan…

Proses masih panjaaang….. Nanti setelah surat pindah ke Jakarta jadi, saya ke operator e-KTP Jakpus untuk memproses NIK ganda saya. Kemudian, membuat surat pindah lagi dari Jakarta ke Depok untuk memindahkan NIK e-KTP. Lalu ke kantor Walikota Depok untuk memasukkan NIK saya kembali bersama KK keluarga. Dilanjutkan ke pak RT 004 minta surat pengantar cetak KK dan e-KTP dan akhirnya ke kelurahan Jatimulya untuk cetak e-KTP dan KK. Itupun kalau semuanya lancar.

Itu hanya satu contoh case dari pengurusan e-KTP, mungkin ada banyak case lainnya yang mungkin lebih rumit. Sepertinya, proses penanganan kasus dengan cara begini, terlalu rumit untuk sebuah sistem yang katanya ‘electronic’.  Menjalani proses ini, bagi sebagian masyarakat akan sangat melelahkan dan ‘sakit’. Jadi tidak hanya para tersangka yang ‘sakit’ menjalani proses hukum. Masyarakat pun sebenarnya ‘sakit’ hanya untuk mengurus kartu yang satu ini.

Berbicara solusi, ada 3 saran dalam kerangka governance e-KTP:

  1. Structure: perlu dibuat satu unit / kantor yang menjalankan fungsi khusus pengelolalaan e-KTP, menangani hal terkait e-KTP yang memiliki kewenangan lintas daerah administrasi. Melihat keadaan sekarang, saya sarankan struktur ini tidak berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, agar lebih fokus dan powerful dalam menyukseskan program e-KTP. Sebutlah misalnya Unit Kerja Presiden bidang Percepatan Implementasi E-KTP (UKP-PIE) 🙂 . Yang jelas, semangat melayani warga negara harus menjadi organization culture dalam struktur ini.
  2. Process: perlu dibuat dokumen kebijakan berisi proses standar semua hal terkait e-KTP, termasuk special case handling. Prosesnya pun harus transparan dan dapat dibaca oleh masyarakat melalui website. Pada kasus khusus, semestinya prosesnya dihandle secara terpisah, tidak mengikuti proses normal dan harus diberi prioritas. Mengapa? Sebab dalam kasus normal, proses bisa selesai dalam 1-2 kali kedatangan atau mungkin dalam kurun waktu seminggu. Tapi dalam kasus khusus, seseorang bisa bolak balik berkali-kali, lempar sana lempar sini, menguras waktu dan biaya yang semestinya tidak perlu. Kita bisa belajar dari beberapa perusahaan swasta yang sepertinya sangat paham dengan pemberian prioritas pada special case demi memberikan customer satisfaction.
  3. Relational mechanism: Case management perlu melibatkan berbagai pihak di daerah dan level yang berbeda. Mereka perlu dikoordinir dalam suatu task force dan dalam aktivitasnya mengandalkan online system berbasis Internet, bukan lagi Antarnet berbasis kenalan. Orang-orang dalam tim ini didedikasikan khusus sebagai perwakilan organisasi yang berbeda untuk memfasilitasi dan membantu menyelesaikan masalah warga negara terkait e-KTP, dan bekerja mengikuti business process yang baku. Paradigma lama tentang pemisahan back office dan front office seperti saat ini pelan-pelan harus mulai ditinggalkan. Tidak perlu lagi pelayan loket menerima berkas, taruh di meja operator, lalu operator input, modifikasi, dan print data dan diserahkan kembali ke pelayan. Petugas front office dalam tim ini, di daerah manapun, sudah saatnya berhadapan dengan komputer, mengakses antarmuka sistem, melakukan verifikasi dan modifikasi data pada sistem yang memiliki audit trail. Tentu ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan e-KTP.

Tetep optimis, kita pasti bisa jadi lebih baik.

 

Advertisements

Last presentation in this semester

group

Last Wednesday was my last presentation for this semester. Our group did a project on testing four websites, Domain, RealEstate, CarsGuide, CarSales, CareerOne and Seek, using Metamorphic Testing.

We performed the test by generating a number of test cases, executing the test cases, and analyzing the result. Finally we compare the performance of each pair of the website.

We utilize Python, Selenium and BeautifulSoup module to execute the test cases and parse the HTML page to get the result of each test case.

 

Here’s the link of our slide: http://slides.com/karfianto/software-testing-and-analysis#/

CeBIT Australia 2017

CeBIT merupakan kegiatan pameran dan konferensi yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini menghadirkan pelaku bisnis di bidang IT dan dilaksanakan selama tiga hari. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan CeBIT Australia tahun ini diadakan di Sydney International Conference Center dan International Exhibition Center, Darling Harbour, Sydney. Adapun tahun sebelumnya kami tidak dapat hadir karena jadwal kuliah pada saat itu masih penuh. Namun, tahun ini, Alhamdulillah bisa menyempatkan hadir di hari terakhir.  Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Wollongong, saya tiba di tempat kegiatan sekitar pukul 9 pagi.

Dalam kegiatan ini, kami mengikuti StartUp conference, menampilkan pembicara yang berpengalaman membangun start-up. Banyak hal yang sangat bermanfaat untuk saya, terutama tips bagaimana memulai dan menjalankan sebuah start-up.

Tidak hanya perusahaan asal Australia, pameran dan konferensi juga dikuti oleh perusahaan dari luar negeri, termasuk Jerman, Taiwan, Filipina, Srilanka, dan tentunya Indonesia, sebagai tetangga Australia.

Yang sangat menarik bagi saya adalah mengunjungi sejumlah stand start-up. Banyak diantara mereka yang baru berdiri memulai bisnis digital-nya beberapa bulan yang lalu. Dari situ kita bisa belajar bagaimana membangun sebuah bisnis digital yang dapat menjadi disruptive technology. Hal lain yang menghibur saya adalah berkesempatan mencoba teknologi Virtual Reality (VR) di salah satu stand.

Bulan Rajab dan Isra- Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w.

Pukul 12.20 saya berangkat menuju masjid Omar untuk melaksanakam sholat Jum’at. Di sini, meskipun waktu dzuhur saat ini masuk pada pukul 11.54, namun khutbah tetap dimulai pukul 12.50, waktu istirahat para pekerja, dan selesai sekitar pukul 13.30. 


Khutbah Jum’at yang disampaikan dalam dua bahasa, Arab dan Inggris secara selang-seling, kali ini mengenai peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang terjadi pada 27 Rajab ini merupakan pemberian dari Allah kepada nabi untuk mengobati kesedihan beliau karena wafatnya dua orang yang sangat dikasihinya, yakni paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah r.a.   

Pada suatu hari menjelang shubuh, Jibril a.s. membangunkan Nabi untuk menuju keluar masjidil haram di Mekkah dan memperlihatkan buroq, sejenis hewan berukuran antara kuda dan keledai. Sekejap waktu kemudian, dengan mengendarai buroq, Nabi telah sampai di masjidil aqsa di Jerusalem. Di sana, Rasulullah memimpin sholat shubuh, mengimami para nabi sebelumnya. Dengan ini Allah menunjukkan keutamaan Rasulullah Muhammad di atas nabi sebelumnya dan merupakan nabi yang terakhir. 

Selepas sholat, Jibril mengajak kembali Nabi Muhammad untuk menuju ke langit. Di setiap langit, Jibril mengetuk pintu dan mengucap salam hingga pintu langit dibuka. Di setiap langit hinga langit ke tujuh, ada nabi-nabi sebelumnya. Melewati langit ke tujuh, Jibril tidak lagi menemani Nabi untuk naik sehingga hanya Nabi Muhammad yang memasukinya. Di sanalah Allah swt menyampaikan ‘hadiah’ berupa perintah sholat yang awalnya 50 waktu. Ketika Rasul turun dan bertemu nabi Musa, beliau menyampaikan bahwa 50 terlalu banyak untuk ummat Nabi Muhammad, sehingga beliau meminta pengurangan kepada Allah. Beberapa kali proses tersebut berulang hingga akhirnya jumlahnya menjadi 5 waktu namun dengan kebaikan yang sama seperti 50 waktu. 

Mendengarkan khutbah ini, mengingatkan kembali bahwa sholat dapat membawa kebahagiaan kepada orang yang melaksanakannya sesuai tuntunan agama. Menutup khutbah, khotib menyampaikan sebagai umat Islam, kita dapat melaksanakan Isra dengan cara bangun sebelum shubuh, meninggalkan tempat tidur, berwudhu dan menuju tempat sholat. Lalu kita melaksanakan Mi’raj dengan melaksanakan sholat. Semoga kita dan anak cucu kita menjadi muslim yang senantiasa menegakkan sholat. 

Asshalaatu mi’rajul mu’miniin

Belajar dan bermain di Indonesian Community Play Group

Sore ini waktunya anak-anak belajar dan bermain bersama teman-temannya. Kali ini kegiatan diadakan di Early Start, pusat pendidikan usia dini milik University of Wollongong. Yang membimbing anak-anak adalah mbak Ika. Kegiatan dimulai pukul 4 sore hingga maghrib.

img_4673Kegiatan dimulai dengan pemanasan berupa menyanyi dan menari bersama selama sekitar 10 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan materi. Kali ini tema yang diambil mengenai bagian dari pohon. Mbak Ika mengenalkan bagian dari pohon kepada anak-anak seperti batang, cabang, ranting, daun dan buah.

Sebelumnya, anak-anak diminta untuk membawa benda yang berbentuk silinder yang nantinya akan menjadi batang. Sebab, kegiatan mandiri kali ini adalah membuat pohon dari benda tersebut. Dedaunan dan buah yang sudah disiapkan selanjutnya ditempelkan ke silinder tadi menggunakan perekat seperti lem atau selotip.

img_7236
Sekitar 20 menit kemudian, semua anak sudah siap dengan hasil karya mereka. Menutup kegiatan hari ini, semua anak berpose dengan menunjukkan hasil karyanya masing-masing.

img_7252
Sampai jumpa di pertemuan berikutnya. See ya!

%d bloggers like this: