Category Archives: Syariah

Do’a Setelah Sholat Dhuha

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ



ALLAHUMMA INNADH DHUHA­A DHUHA­UKA, WAL BAHAA­A BAHAA­UKA,
WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA
QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS
SAMMA­I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA­AKHRIJHU, WA INKAANA
MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA
INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA­IKA WA BAHAAIKA, WA
JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA
‘IBADIKASH SHALIHIN

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha­Mu,
keagungan adalah keagunan­Mu, keindahan adalah keindahan­Mu, kekuatan
adalah kekuatan­Mu, penjagaan adalah penjagaan­Mu, Wahai Tuhanku, apabila
rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi
maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah,
apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha­Mu, kekuasaan­Mu (Wahai
Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hambahambaMu yang soleh”

Advertisements

Bulan Rajab dan Isra- Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w.

Pukul 12.20 saya berangkat menuju masjid Omar untuk melaksanakam sholat Jum’at. Di sini, meskipun waktu dzuhur saat ini masuk pada pukul 11.54, namun khutbah tetap dimulai pukul 12.50, waktu istirahat para pekerja, dan selesai sekitar pukul 13.30. 


Khutbah Jum’at yang disampaikan dalam dua bahasa, Arab dan Inggris secara selang-seling, kali ini mengenai peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang terjadi pada 27 Rajab ini merupakan pemberian dari Allah kepada nabi untuk mengobati kesedihan beliau karena wafatnya dua orang yang sangat dikasihinya, yakni paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah r.a.   

Pada suatu hari menjelang shubuh, Jibril a.s. membangunkan Nabi untuk menuju keluar masjidil haram di Mekkah dan memperlihatkan buroq, sejenis hewan berukuran antara kuda dan keledai. Sekejap waktu kemudian, dengan mengendarai buroq, Nabi telah sampai di masjidil aqsa di Jerusalem. Di sana, Rasulullah memimpin sholat shubuh, mengimami para nabi sebelumnya. Dengan ini Allah menunjukkan keutamaan Rasulullah Muhammad di atas nabi sebelumnya dan merupakan nabi yang terakhir. 

Selepas sholat, Jibril mengajak kembali Nabi Muhammad untuk menuju ke langit. Di setiap langit, Jibril mengetuk pintu dan mengucap salam hingga pintu langit dibuka. Di setiap langit hinga langit ke tujuh, ada nabi-nabi sebelumnya. Melewati langit ke tujuh, Jibril tidak lagi menemani Nabi untuk naik sehingga hanya Nabi Muhammad yang memasukinya. Di sanalah Allah swt menyampaikan ‘hadiah’ berupa perintah sholat yang awalnya 50 waktu. Ketika Rasul turun dan bertemu nabi Musa, beliau menyampaikan bahwa 50 terlalu banyak untuk ummat Nabi Muhammad, sehingga beliau meminta pengurangan kepada Allah. Beberapa kali proses tersebut berulang hingga akhirnya jumlahnya menjadi 5 waktu namun dengan kebaikan yang sama seperti 50 waktu. 

Mendengarkan khutbah ini, mengingatkan kembali bahwa sholat dapat membawa kebahagiaan kepada orang yang melaksanakannya sesuai tuntunan agama. Menutup khutbah, khotib menyampaikan sebagai umat Islam, kita dapat melaksanakan Isra dengan cara bangun sebelum shubuh, meninggalkan tempat tidur, berwudhu dan menuju tempat sholat. Lalu kita melaksanakan Mi’raj dengan melaksanakan sholat. Semoga kita dan anak cucu kita menjadi muslim yang senantiasa menegakkan sholat. 

Asshalaatu mi’rajul mu’miniin

Labbaik Allahumma Labbaik

Labbaik Allaahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbaik
Innalhamda wanni’mata laka wal mulk
Laa syarika laka..

Kalimat talbiyah kini menggema di tanah haram, Makkah Al Mukarramah. Saudara-saudari kita seiman kini tengah melaksanakan rukun islam kelima, yakni ibadah haji. Saya membayangkan tentu merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa dapat memandang ka’bah, maqom nabi Ibrahim, shalat di Hijr Ismail, mencium Hajar Aswad, meneladani apa yang dilakukan keluarga Nabi Ibrahim, dan berdo’a penuh kerendahan diri di hadapan Allah, di bumi Allah yang paling suci.

Merupakan suatu nikmat yang agung jika kita diberi oleh Allah swt kesempatan usia, kecukupan harta, serta niat dan azzam yang kuat untuk bisa melaksanakan ibadah haji, kewajiban bagi muslim yang mampu.

Alhamdulillah, pada tahun ini Bapak dan Ibu memiliki niat untuk melaksanakan ibadah Haji. Beberapa hari yang lalu, mereka sudah mendaftar ke Kementerian Agama sebagai calon haji, walaupun mendapat giliran pada waktu yang cukup lama yaitu 2023, atau sekitar 11 tahun lagi.

Namun hal ini sangat kami syukuri. Mengapa? Pertama, Allah menganugerahkan hidayah kepada bapak dan ibu berupa niat untuk melaksanakan ibadah tersebut. Persoalan waktu, itu tidak mengapa. Jika memang jalan yang harus ditempuh memang demikian, insyaAllah, Allah akan memberangkatkan keduanya di waktu yang terbaik sesuai yang telah direncanakan-Nya. Sesungguhnya segala sesuatu tergantung dari niatnya, hadits Rasulullah saw. Di dalam khauf (pengharapan) terdapat keutamaan, yakni seorang hamba akan selalu mendekatkan dirinya kepada Allah jikalau ia memiliki sesuatu yang diharapkan dari Sang Pencipta, dan selalu memohon kepada Allah agar dikabulkan keinginannya. Setiap do’a akan dijawab melalui tiga cara, dikabulkan dengan segera, dikabulkan dengan tertunda, atau dibalas dengan pahala di yaumil akhir.

Kedua, Allah swt telah memberikan satu ‘alasan’ atau cita-cita yang mendorong keduanya untuk giat berikhtiar mencari nafkah yang barokah serta menjaga kesehatan diri, karena ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan harta dan tenaga.

Ketiga, Allah telah mencukupkan rizki pada saat ini, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga mampu untuk membayar sebagian biaya haji.

Semoga Allah memudahkan langkah, memanjangkan umur, dan mencukupkan rizki kita pada umumnya serta ibu dan bapak khususnya, untuk menuju baitullah, melaksanakan ibadah haji.

Amin ya Rabbal ‘aalamiin.

Menanti Kejujuran

Menanti kejujuran, harapkan kepastian, hanya itu yang sanggup aku lakukan.. Ups, kali ini saya ngga akan membahas lagu ini 🙂

Ada secuil cerita yang sepertinya menarik untuk saya tuliskan. Seperti biasa, bila dari Semarang akan pulang ke Jakarta, saya ke Stasiun Tawang naik bus dari terminal Banyumanik. Setibanya di terminal, seorang tukang ojek menghampiri saya, menanyakan tujuan dan menawarkan jasa ojek, ke stasiun Tawang, ongkosnya 25 ribu sama seperti temannya yang baru saja berangkat membawa penumpang lain. Namun karena seperti biasa saya naik bis saja. Setelah manunggu beberapa saat, bus tak kunjung berangkat, dan saya pun mulai gelisah karena takut terlambat tiba di stasiun.
Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek saja. Turun dari bus, saya mencari tukang ojek tadi namun tidak melihatnya. Tak lama kemudian, seorang tukang ojek lainnya menawarkan ojek dengan harga 30 ribu, katanya sama seperti penumpang yang baru saja dia antarkan. Kesimpulan sementara, mungkin mas ini yang tadi diceritakan tukang ojek pertama, tapi kok 30 ribu, beda dengan keterangan mas yang pertama. Cuma selisih 5 ribu tidak ada masalah sebenarnya, tapi saya penasaran yang mana yang benar 🙂
Setelah sedikit tawar menawar, akhirnya disepakai 25 ribu.

Sekitar 30 menit perjalanan terasa sangat mendebarkan. Motor dipacu dengan kecepatan tinggi layaknya Moto GP. Alhamdulillah sampai juga di Stasiun dengan selamat.

Turun dari motor saya berikan selembar uang 50 ribu dan menanti kembalian 25 ribu. Namun mas itu bilang, “adanya cuma 20 ribu mas”, sejenak saya paham maksudnya. Lalu saya tukarkan ke tukang becak dan menyerahkan 25 ribu ke mas itu.

Sekilas ada yang janggal, disebutkan sebelum berangkat bahwa dia baru saja sampai setelah mengantarkan penumpang ke stasiun dengan harga 30 ribu, tapi kenapa yang ada hanya 20 ribu? Tapi mungkin juga sisanya sudah dibelanjakan. Kejanggalan kedua, jika ingin memberi pelayanan prima, seharusnya yang dikatakan adalah “wah ngga ada uang kembalian, apakah ada uang pas?”, menurut saya itu lebih baik supaya pelanggan tidak merasakan kesan dia ingin merubah kesepakatan.

Saya merefleksikan pesan moral tersebut, bahwa saya harus memberi pelayanan prima kepada pelanggan dan sedapat mungkin melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Terlepas dari besar atau kecil pengaruhnya. Supaya kita bisa menjadi orang yang profesional dan disenangi pelanggan.

Dari dalam Kereta Senja Menoreh yang AC-nya tidak sedingin satu bulan yang lalu 🙂

Selamat Idul Adha 1433 H

Idul Adha kali ini adalah yang pertama sejak pernikahan kami. Tahun ini kami (saya dan istri) merayakan Idul Adha di rumah orang tua istri di Depok.
Kemarin sepulang dari kantor, tiba di rumah pas adzan Maghrib. Setelah minum segelas air untuk berbuka puasa (puasa Arafah -pen), setelah sholat Maghrib berjamaah, kami melanjutkan perjalanan ke Depok.
Berhubung kebetulan belum makan malam, singgahlah kami di SS (Spesial Sambal) margonda. Setelah selesai lanjut perjalanan lagi hingga tiba di rumah sekitar pukul 20.00.
Macetnya jalanan membuat perjalanan terasa cukup melelahkan, sehingga selepas melaksanakan sholat Isya, saya langsung terlelap tidur.
Keesokan harinya (pagi ini -pen) setelah mandi dan sholat shubuh, kami bersiap sholat Ied di masjid terdekat.
Sepulang sholat, kami sekeluarga bersama dengan keluarga kakak ipar menyantap ketupat sayur, sambal goreng kentang, dan opor ayam kampung. Di masjid sekitar rumah, pemotongan hewan kurban belum dilaksanakan hari ini karena pertimbangan hari ini akan melaksanakan sholat Jum’at. Jadi pemotongan hewan dijadwalkan besok.
Malam ini diagendakan bakar sate di tempat kakak, namun sayangnya saya tidak bergabung karena kereta ke Semarang sudah menunggu. Saya tiba di stasiun pukul 18.45. Setelah makan dan sholat saya pun naik ke dalam kereta dan kereta mulai berjalan pukul 19.10 sesuai yang tertera di tiket. Setelah duduk di kursi, mulailah saya menulis posting ini. 🙂

Selamat hari raya Idul Adha 1433H.
Semoga dengan pengorbanan kita, Allah menjadikan kita manusia yang semakin bertakwa dan semakin dekat dengan-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

There’s no success without sacrifice.

%d bloggers like this: