Category Archives: Mu'amalah

Menanti Kejujuran

Menanti kejujuran, harapkan kepastian, hanya itu yang sanggup aku lakukan.. Ups, kali ini saya ngga akan membahas lagu ini 🙂

Ada secuil cerita yang sepertinya menarik untuk saya tuliskan. Seperti biasa, bila dari Semarang akan pulang ke Jakarta, saya ke Stasiun Tawang naik bus dari terminal Banyumanik. Setibanya di terminal, seorang tukang ojek menghampiri saya, menanyakan tujuan dan menawarkan jasa ojek, ke stasiun Tawang, ongkosnya 25 ribu sama seperti temannya yang baru saja berangkat membawa penumpang lain. Namun karena seperti biasa saya naik bis saja. Setelah manunggu beberapa saat, bus tak kunjung berangkat, dan saya pun mulai gelisah karena takut terlambat tiba di stasiun.
Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek saja. Turun dari bus, saya mencari tukang ojek tadi namun tidak melihatnya. Tak lama kemudian, seorang tukang ojek lainnya menawarkan ojek dengan harga 30 ribu, katanya sama seperti penumpang yang baru saja dia antarkan. Kesimpulan sementara, mungkin mas ini yang tadi diceritakan tukang ojek pertama, tapi kok 30 ribu, beda dengan keterangan mas yang pertama. Cuma selisih 5 ribu tidak ada masalah sebenarnya, tapi saya penasaran yang mana yang benar 🙂
Setelah sedikit tawar menawar, akhirnya disepakai 25 ribu.

Sekitar 30 menit perjalanan terasa sangat mendebarkan. Motor dipacu dengan kecepatan tinggi layaknya Moto GP. Alhamdulillah sampai juga di Stasiun dengan selamat.

Turun dari motor saya berikan selembar uang 50 ribu dan menanti kembalian 25 ribu. Namun mas itu bilang, “adanya cuma 20 ribu mas”, sejenak saya paham maksudnya. Lalu saya tukarkan ke tukang becak dan menyerahkan 25 ribu ke mas itu.

Sekilas ada yang janggal, disebutkan sebelum berangkat bahwa dia baru saja sampai setelah mengantarkan penumpang ke stasiun dengan harga 30 ribu, tapi kenapa yang ada hanya 20 ribu? Tapi mungkin juga sisanya sudah dibelanjakan. Kejanggalan kedua, jika ingin memberi pelayanan prima, seharusnya yang dikatakan adalah “wah ngga ada uang kembalian, apakah ada uang pas?”, menurut saya itu lebih baik supaya pelanggan tidak merasakan kesan dia ingin merubah kesepakatan.

Saya merefleksikan pesan moral tersebut, bahwa saya harus memberi pelayanan prima kepada pelanggan dan sedapat mungkin melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Terlepas dari besar atau kecil pengaruhnya. Supaya kita bisa menjadi orang yang profesional dan disenangi pelanggan.

Dari dalam Kereta Senja Menoreh yang AC-nya tidak sedingin satu bulan yang lalu 🙂

Advertisements

Wahai Pemuda, Jangan Layu Sebelum Berbuah!

Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita  pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).

Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Semua manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah سبحانه وتعالى‎ dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.

Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”

Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.

اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب

“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.

Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia. Read more of this post

Kisah Rasulullah dan Pengemis Buta Yahudi

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam yakni Abubakar Radiallahu ‘anhu berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Radiallahu ‘Anha yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”.

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”.

“Apakah Itu?”, tanya Abubakar.
“Setiap pagi Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana “, kata Aisyah .

Keesokan harinya Abubakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?”. Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.”
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu
menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar ra, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?

Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. “

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar ra saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Kisah Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah

Suatu malam, Amirul Mu’minin (pemimpin umat Islam) Umar bin Khattab r.a. mendengar tangis anak-anak di sebuah rumah. Terdengar pula suara ibu mereka menenangkan anak-anaknya.

Umar kemudian mendatangi rumah tersebut dan meminta ijin kepada ibu itu agar diperbolehkan masuk. Ibu itu menjelaskan padanya bahwa ia sedang menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Untuk menghibur dan menenangkan anak-anaknya ia sengaja merebus air.

Ibu yang sangat malang itu tidak tahu bahwa orang yang datang ke rumahnya adalah Amirul Mu’minin.

Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, mengapa anda tidak datang kepada Amirul Mu’minin untuk meminta pangan?”

Si ibu menjawab, “Selaku Amirul Mu’minin seharusnya ia tahu nasib rakyatnya.”

Mendengar perkataan itu, Umar segera pamit dengan wajah duka. Sepanjang jalan ia menangis tersedu. Bersama pengawalnya ia pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumahnya, Umar mengumpulkan gandum ke dalam karung, kemudian dipikulnya karung itu seorang diri menuju rumah ibu itu.

Pengawalnya pun menawarkan diri untuk menggantikannya memikul karung tersebut. Namun Amirul Mu’minin berkata, “Apakah kamu juga sanggup memikul tanggung jawabku di hadapan Allah pada hari akhir?”

Sesampainya di sana, ia merebus sendiri gandum tersebut dan setelah masak, ia berikan kepada anak-anak yang tengah kelaparan itu dan sesudahnya ia pun bergurau dengan mereka sampai anak-anak itu tertidur.

Kemudian sang ibu, berkata, “Terima kasih atas kebaikanmu, sesungguhnya Engkau lebih pantas menjadi Amirul Mu’minin.”

Mendengar perkataan sang ibu, Amirul Mu’minin Umar bin Khattab r.a tersenyum.

Rasulullah melindungi akhlak umatnya

Diriwayatkan dari Ali bin Husain, bahwa Shafiyah binti Huyai bin Akhthab memberi tahu kepadanya bahwa pada suatu saat, Nabi Muhammad saw beri’tikaf di dalam masjid, Shafiyah berkata, “Lalu aku mendatangi Nabi dan berbicara kepadanya. Setelah sore, aku pun kembali dan beliau bangkit lalu berjalan bersamaku. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan dua orang lelaki dari kaum Anshar. Keduanya mengucapkan salam, lalu terus berjalan. Kemudian Rasululullah saw memanggil mereka seraya berkata, ‘Sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyai (istri Rasulullah sendiri).’ Kedua orang Anshar itu kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak berprasangka kepadamu selain kebaikan.’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya setan (dapat) mengalir di dalam diri anak Adam sebagaimana darah mengalir dalam jasad(nya), sesungguhnya aku khawatir setan akan masuk pada kalian berdua.’”

Begitulah Rasulullah Muhammad saw. mengkhawatirkan agama kedua orang itu, lalu melindungi keduanya agar mereka terhindar dari berprasangka buruk. Betapa sayangnya beliau kepada umat beliau, sehingga mengajarkan mereka cara menjaga diri dari tuduhan, agar orang yang alim, wara’ dan dikenal kuat beragama, tidak lalai terhadap dirinya. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri dari prasangka buruk dan tuduhan orang-orang yang jahat.

Sabda Rasulullah saw., “Tidak ada fitnah sepeninggalku nanti yang lebih besar bahayanya untuk dihadapi oleh kaum lelaki, melainkan fitnah yang ditimbulkan oleh karena persoalan orang-orang perempuan.” (Muttafaqun ‘alaih)

%d bloggers like this: