Category Archives: Islam

Percakapan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan

Memilih pasangan hidup memang menjadi salah satu keputusan terpenting dan terberat dalam hidup. Kita harus berkompromi dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Permasalahan ini juga sempat saya hadapi. Catatan percakapan pada tahun 2009, 2010, dan 2011 berikut mungkin menjadi percakapan yang sangat berpengaruh pada pernikahan saya pada 2012. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat, dan dijauhkan dari semua rasa bangga.

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu nasihat”. (HR Muslim)


Percakapan pertama, 9 Juli 2009 19:12

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Pak Fanar, apa kabar? Alhamdulillah bisa bersilaturrahmi kembali walaupun hanya melalui internet. Terima kasih sudah di-add di facebook.
Begini Pak, saya mau mohon nasihat dari bapak mengenai pernikahan. Berikut ini beberapa hal yang selalu mengganjal dalam hati saya, mohon jawaban, dan “disertai alasan”:

1. Mana yang harus didahulukan? menikah, mencari ilmu/gelar S2, atau harta untuk membeli rumah dll?

Tanyakan ke dirimu sendiri, Karfi! bila ente dah gak bisa menahan nafsu, maka nikah adalah wajib. tetapi bila masih bisa menahan nafsu, maka masih sunah or mubah. menurutku sih ilmu (ke S2) lebih baik, dibandingkan menimbun harta di properti. rumah bisa dibicarakan dg istri & keluarga nanti setelah menikah.

2. Apa tandanya kita sudah siap dan harus untuk menikah?

fisik/jasmani, psikis/rohani, harta/maal utk menghidupi keluarga nanti.

3. Kapan mulai menjemput jodoh? ketika sudah siap atau sambil mempersiapkan sudah mulai mencari-cari?

bila antum sudah siap, dan antum punya ustadz, diskusikan dengan ustadz antum. insyaAlloh itu lebih baik! masih ikut ngaji nggak antum?

Nomor 4 dan 5 di-skip karena sensitif 🙂

6. Seberapa perlu kita mencari harta, dan seberapa ukurannya untuk siap
menikah?

minimal utk mahar ke calon istri, dan bantuan walimah sekedarnya ke keluarga istri, kalo walimah diadakan oleh keluarga calon istri tsb.

7. Mengingat bapak juga seorang PNS, bagaimana caranya mengatur keuangan agar bisa mewujudkan memiliki sebuah rumah yang besar, mobil yang bagus, ,membimbing istri dan membesarkan anak-anak. Saya masih belum punya gambaran dari mana mengusahakannya?

hanya dari gaji PNS saja tidak cukup. punyailah suatu kompetensi, yang dibutuhkan oleh orang lain, shg dg menjadi Tenaga Ahli, mengisi seminar, menjadi instruktur, dosen dsb … itu merupakan tambahan yang tidak kecil artinya. Kalo antum punya jiwa bisnis, bisa membangun bisnis dengan teman, keluarga, kolega yang antum percayai. jadi intinya, jangan hanya mengandalkan dari gaji PNS saja, bila remunerasi PNS masih seperti saat ini. Lain bila gaji telah diukur dengan kompetensi kita nanti, dan mencukupi untuk kebutuhan keluarga, maka kita bisa lebih fokus pada pekerjaan kita sbg PNS.
Yakinlah, Allah SWT telah menaqdirkan rizki untuk diri kita, keluarga kita bahkan untuk anak-anak kita (kita? yang dah nikah tentunya), sebagaimana Dia telah menanggung rejeki untuk setiap makhluk-Nya. Dan … kita harus berikhtiar untuk mendapatkannya!

Oche, sukses untuk kita semua. InsyaAlloh. lanjutkan! 😀

Sementara itu yang masih teringat, mungkin masih ada lagi pertanyaan
yang akan menyusul. Sebelumnya Jazakulumullah Khairan Katsir.

“Khairunnaas anfa’hum linnaas”

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Arief Karfianto


A. Fanar Syukri, Ph.D
Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

 

** sejak percakapan ini, saya putuskan untuk menyelesaikan S-2, menabung sekadarnya, menekuni satu keahlian, dan ingin menikah melalui ta’aruf dengan perantara guru ngaji.

—-

Percakapan kedua, 26 Oktober 2010 14.33

Assalamu ‘alaikum wr.wb. pak Fanar, apa kabar? semoga sehat selalu..

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pak, mengenai kriteria se-kufu’ dalam memilih calon istri.
Dalam kitab Fiqh Sunnah (Sayyid Sabiq) dibahas dalam satu bab sendiri tentang kufu’ ini.
Yang saya pahami dalam buku itu, menurut sebagian besar ulama, intinya kufu’ dalam Islam artinya setara dalam masalah agama, bukan nasab (suku/keturunan), kekayaan, pendidikan, dll. Seperti halnya Rasulullah yang menikahkan putri-putrinya yang tentunya oleh masyarakat Arab dianggap suku yang terhormat dengan Sahabat yang berasal dari suku lain. Karena memang bukan pada permasalahan sukunya tetapi karena agamanya.

Kemudian dalam terjemahan kitab Al Hikam (Ibn Ataillah) ada bagian yang menyebutkan menunggu sesuatu yang belum tentu datang dan melepaskan yang sudah jelas adalah suatu kebodohan.

Lalu pertanyaan saya, ketika seorang lelaki muslim kemudian mencari istri yang berasal dari suku yang sama, dengan harapan agar kedua keluarga dapat lebih erat, saling memahami, budaya, adat istiadat, dan bahasa yang tidak terlalu jauh berbeda sehingga lebih akrab, dan tidak sama sekali bermaksud menganggap wanita dari luar sukunya itu lebih rendah. Tetapi karena mengharapkan kenyamanan dan komunikasi yang lebih baik. Dan dalam mencarinya pun tetap mengutamakan agamanya, apakah itu salah pak?

Bagaimana menurut bapak?

Terima kasih sebelumnya,
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wass wr wb.
Alhamdulillah bi khoir, kami sekeluarga senantiasa dalam lindungan Alloh SWT, sehat-walafiat, tidak kurang suatu apa. Semoga antum dkk juga demikian. Amiiin.

Ya, istilah kufu diartikan sederajat, baik agama-nya, kecantikan/kegantengannya, kekayaan, maupun nasab-nya. Itu yang ideal. Kalau semuanya tidak bisa kufu? paling tidak ya kufu/sederajat agama-nya, yaitu bila calon suami adalah orang sholeh, yg ikut ngaji, hapal 3 juz; ya calon istri-nya juga sholehah, ikut ngaji, hapal 1 atau 2, syukur 3 juz juga. 🙂 sepadan-lah.

Mengenai pemilihan calon suami/istri se-suku, itu tidak menjadi masalah, apalagi misalnya ada permintaan dari orang tua agar mencari pasangan dari suku yang sama, selama tidak melanggar syar’i, diperbolehkan (bahkan akan lebih baik) untuk dituruti.

Jadi, bila antum telah memilih agama-nya (wajib), maka suku, nasab, kekayaan … itu sekedar opsi saja. Sesuai dengan harapan ya syukur, kalau tidak; engkau tetap akan bisa bahagia bila telah memilih calon istri karena faktor agama-nya. OK? Selamat mencari pasangan hidup yang sederajat agama-nya. Laki-laki sholeh untuk wanita-wanita sholehah, Bro! 🙂 Semoga bisa mewujudkan keluarga asmara! (as-sakinah mawaddah wa rahmah!) amiiiin. jangan lupa ngundang saya lho,ya; kalau memungkinkan hadir, insyaAlloh akan diusahakan bisa hadir, memberikan doa & restu. 🙂

wass wr wb

** sejak percakapan ini, saya tidak lagi memaksakan diri harus menikah dengan orang jawa, asalkan baik agamanya.

—–

Percakapan ketiga, 20 Juni 2011 11.25

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Apa kabar pak Fanar? semoga senantiasa sehat wal ‘afiat dan dalam limpahan rahmat Allah swt.

Saat ini saya sedang menjalani proses ta’aruf dengan seorang akhwat. Alhamdulillah setelah beberapa kali istikharah, ada kemantapan hati untuk tetap melanjutkan. Dan puji syukur kepada Allah swt, calon ini insyaAllah agama dan akhlaknya baik. Dari suku sunda, dan Allah memberi kemudahan karena orang tua tidak mempermasalahkannya.

Tadi malam saya melaksanakan Nadzor dipertemukan dengan murabbi dan murabbiah akhwat tsb, dan alhamdulillah lancar. Saya mulai berpikir untuk persiapan pernikahan. Saya punya beberapa pertanyaan dan ingin meminta pendapat pak Fanar sebagai guru saya:

Pertanyaan nomor 1 di-skip lagi karena sensitif 😀

2. Menyadari kesibukan saya di tempat kerja, saya memiliki keinginan agar istri nantinya menjadi ibu rumah tangga di rumah saja (semoga Allah mencukupi rizki kami kelak). Saya ingin meminta motivasi dan pengalaman pak fanar mengenai istri yang menjadi ibu rumah tangga. Supaya saya bisa lebih memantapkan hati saya, dan terhindar dari kekhawatiran disebabkan cerita orang-orang tentang permasalahan ekonomi dsb.

Afwan bila saya banyak bertanya ya Pak. Mohon bimbingan semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah seperti bapak.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah kami sekeluarga sehat-walafiat akhi. semoga antum dan keluarga besar juga demikian. Amiin x3.
Mabruk akhi, semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi langkah-langkah baik antum. Amiin x3. Senang sekali, antum masih mau konsultasi ke saya. 🙂 Saya jawab secara normatif saja, sepanjang pengetahuan saya saja ya. 😀

 

2. Istri di rumah saja atau bekerja, perlu pula antum syuro-kan dengan istri. Bila telah ada anak, idealnya sih istri yang merawat, mendidik dan membesarkannya di rumah. Apalagi bila secara ekonomi, Antum sbg kepala keluarga, bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Tetapi bila istri antum punya potensi, dan ingin dimanfaatkan pula untuk masyarakat dan umat; perlu difasilitasi bukan? Bisa bekerja di rumah, atau pun di luar rumah sekali pun, asal akhlaq & hubungan di tempat kerja terjamin tidak ada fitnah. Setelah menikah, belum ada anak … kemudian antum meminta istri di rumah saja, apa yang akan dilakukannya, saat antum bekerja? 🙂 lebih2 bila antum kerjanya dari pagi sampai malam, …. aduhai alangkah kesepiannya menunggu, menunggu & menunggu. Jadi, saran saya …. syuro-kan bainakuma. Tak ada yang lebih baik dari syuro, saling terbuka, dan mencari jalan keluar bersama-sama, diniati dengan keikhlasan dan bersama mencari Ridho Alloh di dunia & akherat. 🙂

OK, Bro? Semoga Alloh SWT memudahkan urusan antum khususnya, dan kita semua. Senang sekali ana dengar antum menyegerakan pernikahan, melengkapi separoh agama antum. Barokallohu fiikum akhi.

Teriring salam penuh kebahagiaan,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
AFS

** sejak percapakan ini, saya memutuskan kelak akan bermusyawarah dengan istri mengenai pekerjaannya, apakah pada situasi tersebut lebih baik tetap bekerja atau berhenti. Ternyata pada kondisi kami saat itu,  istri berhenti dari pekerjaan adalah pilihan terbaik.

 

Alhamdulillah, dari percakapan itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk melawan mitos-mitos sosial yang sempat membebani saya dan tidak ada dasarnya dalam agama:

  • Suami dan Istri harus bekerja di luar (dulu istri saya pegawai swasta dan kini menjadi ibu rumah tangga sejak kelahiran anak pertama)
  • Menikah dengan suku yang sama (saya dari suku jawa dan istri saya dari sunda)
  • Anak ke 1 dengan anak ke 3 tidak baik dalam adat jawa (saya anak pertama dan istri anak ketiga)
  • Istri di rumah, ekonomi susah (alhamdulillah kami selalu merasa cukup dan bersyukur atas nikmat-Nya)

Semoga bermanfaat dunia akhirat.

Wollongong, NSW

Advertisements

Do’a Qunut

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ
وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ
وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ،
فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ
وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ
وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allah hummah dinii fiiman hadait.
Wa’aa finii fiiman ‘aafait.

Watawallanii fiiman tawal-laiit.
Wabaariklii fiimaa a’thait.
Waqinii syarramaa qadhait.
Fainnaka taqdhii walaa yuqdha ‘alaik.
Wainnahu laayadzilu man walait.
Walaa ya’izzu man ‘aadait.
Tabaa rakta rabbanaa wata’aalait.
Falakalhamdu ‘alaa maaqadhait.
Astaghfiruka wa’atuubu ilaik.
Wasallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi. Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam.Artinya :

Ya Allah tunjukkanlah kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan
Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan
Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan
Dan berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan
Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan
Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum
Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau
Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan
Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Do’a Setelah Sholat Witir

Do’a setelah sholat Witir adalah sebagai berikut:

اَللهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًاقَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ، اَللهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَللهُ يَااَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
ALLAHUMMA INNAA NAS’ALUKA IIMAANAN DAA’IMAN, WANAS’ALUKA QALBAN KHAASYI’AN, WANAS’ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WANAS’ALUKA YAQIINAN SHAADIQON, WANAS’ALUKA ‘AMALAN SHAALIHAN, WANAS’ALUKA DIINAN QAYYIMAN, WANAS’ALUKA KHAIRAN KATSIIRAN, WANAS’ALUKAL ‘AFWA WAL’AAFIYATA, WANAS’ALUKA TAMAAMAL ‘AAFIYATI, WANAS’ALUKASY SYUKRA ‘ALAL ‘AAFIYATI, WANAS’ALUKAL GHINAA’A ‘ANINNAASI. ALLAAHUMMA RABBANAA TAQABBAL MINNAA SHALAATANAA WASHIYAAMANAA WAQIYAAMANAA WATAKHUSY-SYU’ANAA WATADHORRU’ANAA WATA’ABBUDANAA WATAMMIM TAQSHIIRANAA YAA ALLAAHU YAA ALLAAHU YAA ALLAAHU YAA ARHAMAR RAAHIMIINA. WASHALLALLAAHU ‘ALAA KHAIRI KHALQIHI MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHI WASHAHBIHI AJMA’IINA, WALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIINA.
Wahai Allah. Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang tetap, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu’, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shaleh, kami memohon kepada-Mu agama yang lurus, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang banyak, kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu syukur atas kesehatan, dan kami memohon kepada-Mu terkaya dari semua manusia. Ya Allah, Tuhan kami. Terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyu’an kami, kerendahan hati kami, ibadah kami. Sempurnakanlah kelalaian atau kekurangan kami, Wahai Allah Wahai Allah Wahai Allah Wahai Dzat yang Paling Penyayang diantara para penyayang. Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baiknya makhluk-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabatnya semua, dan segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam.

Do’a Setelah Sholat Istikharah

Do’a Setelah Sholat Istikharah

اَللهُمَّ اِنِّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ. فَاِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَآاَقْدِرُ وَلَآاَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللهُمَّ اِنْ كُنْتَ
تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَخَيْرٌلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ فَاقْدُرْهُ لِىْ وَيَسِّرْهُ لِىْ ثُمَّ بَارِكْ لِىْ فِيْهِ وَاِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَشَرٌّلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِىْ وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْلِى الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ.
ALLOOHUMMA INNI ASTAKHIIRUKA BI’ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BIQUDROTIKA WA AS ALUKA MIN FADHLIKAL ‘ADZHIIMI. FAINNAKA TAQDIRU WALAA AQDIRU WALAA A’LAMU WA ANTA ‘AL-LAAMULGHUYUUBI. ALLOOHUMMA INKUNTA TA’LAMU ANNA HAADZAL AMRO KHOIRUN LII FII DIINII WAMA’AASYII FAQDURHU LII WA YASSIRHU LII TSUMMA BAARIKLII FIIHI WA INKUNTA TA’LAMU ANNA HAADZAL AMRO SYARRUN LII FII DIINII WA MA’AASYII WA ‘AAQIBATI AMRII WA ‘AAJILIHI FASHRIFHU ‘ANNII WASHRIFNII ‘ANHU WAQDURLIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIHI.
Wahai Allah, bahwasanya aku mohon pilihan olehMu dengan ilmu-Mu, dan mohon kepastian-Mu dengan kekuasaan-Mu, serta mohon kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, karena Engkaulah Dzat yang berkuasa, sedang aku tiada kuasa, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui, sedang aku tiada mengetahui, dan Engkaulah Dzat yang mengetahui yang ghoib. Wahai Allah, jika adanya, Engkau ketahui bahwa urusan ini …….. adalah baik bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibat urusanku untuk masa sekarang maupun besoknya, maka kuasakanlah bagiku dan permudahkanlah untukku, kemudian berkahilah dalam urusan itu bagiku. Namun jikalau adanya, Engkau ketahui bahwa urusan itu ……… menjadi buruk bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibatnya persoalanku pada masa sekarang maupun besoknya, maka hindarkanlah aku dari padanya, lalu tetapkanlah bagiku kepada kebaikan, bagaimanapun adanya kemudian ridhoilah aku dengan kebaikan itu.

Do’a Setelah Sholat Tahajjud

Doa Setelah Sholat Tahajjud

اَللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَالِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ
ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQAA’UKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WAL JANNATU HAQQUN, WANNAARU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAMA HAQQUN WASSAA’ATU HAQQUN. ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHAASHAMTU, WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIRLII MAA QADDAMTU, WA MAA AKH-KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHIMINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MU’AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
“Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itu benar(ada). Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
%d bloggers like this: