Category Archives: Islam

Petunjuk dari Al Qur’an untuk Umat Manusia Sejak dalam Kandungan Sampai Akhirat

1. Sebelum lahir

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan [beberapa waktu]. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya [suami isteri] bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. (7:189)

 

2. Setelah lahir

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih [sebelum dua tahun] dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (2:233)

 

3. Mendidik anak kecil

Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (3:13) Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1] Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (3:14) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (3:15) [Luqman berkata]: “Hai anakku, sesungguhnya jika ada [sesuatu perbuatan] seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya [membalasinya]. Sesungguhnya Allah Maha Halus [2] lagi Maha Mengetahui. (3:16) Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah]. (3:17) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia [karena sombong] dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (3:18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalan [3] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (3:19)

 

4. Menuntut ilmu

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya [ke medan perang]. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (9:122)

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (58:11)

 

5. Bergaul dengan orang lain

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

 

6. Menghadapi kesulitan

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (2:155) [yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. [2] (2:156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad [1] di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (3:142)

 

7. Mendapat kenikmatan

Dan [ingatlah juga], tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [ni’mat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [ni’mat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (14:7)

 

8. Persiapan Menghadapi Kematian

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu [4] dan dikeluarkan dari keadaan semula [5] dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (2:36)

 

9. Ada Kehidupan Kekal Setelah Dunia

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (3:185)

 

10. Malaikat yang akan mencabut nyawa

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk [mencabut nyawa]mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (32:11)

 

11. Saat orang beriman dicabut nyawanya

Hai jiwa yang tenang. (89:27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (89:28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (89:29) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (89:30)

12. Saat orang kafir dicabut nyawanya

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka [dan berkata]: “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, [tentulah kamu akan merasa ngeri]. (8:50)

 

13. Kebahagiaan para syahid setelah kematian

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup [2] di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, (3:169) mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka [3] bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. (3:170) Mereka bergirang hati dengan ni’mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (3:171)

 

14. Tempat untuk orang bertakwa

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (3:133) [yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (3:134)

 
15. Tempat untuk orang kafir

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (4:56)

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan [oleh orang-orang kafir], maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya [kalau kamu berbuat demikian], tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (4:140)

 

Wallahu a’lam bishshawwab

 

Referensi:

Kajian Ust. Adi Hidayat di Masjid Al Fitrah Keutapang, Banda Aceh [https://www.facebook.com/akhyartv/videos/1485853981454358/]

Al Qur’an [online: http://www.quranexplorer.com/quran/]

Buku 77 Tanya Jawab Seputar Sholat karya H. Abdul Somad Lc. M.A.

Di beberapa ceramah beliau disampaikan buku ini dapat diperoleh gratis dengan mencari melalui Google. Kami pun mencoba mencarinya lalu kemudian memposting ulang di blog ini untuk memudahkan masyarakat yang ingin membaca.

Isi:

Pertanyaan 1: Apakah shalat itu?
Pertanyaan 2: Apakah dalil yang mewajibkan shalat?
Pertanyaan 3: Bilakah Shalat diwajibkan?
Pertanyaan 4: Bilakah seorang muslim mulai diperintahkan melaksanakan shalat?
Pertanyaan 5: Apakah shalat mesti dilaksanakan secara berjamaah?
Pertanyaan 6: Apa saja keutamaan shalat berjamaah itu?
Pertanyaan 7: Apakah hukum perempuan shalat berjamaah ke masjid?
Pertanyaan 8: Bagaimanakah cara meluruskan shaf?
Pertanyaan 9: Bagaimanakah posisi Shaf anak kecil?
Pertanyaan 10: Apakah hukum shalat orang yang tidak berniat?
Pertanyaan 11: Apakah hukum melafazkan niat?
Pertanyaan 12: Bilakah waktu berniat?
Pertanyaan 13: Apakah batasan mengangkat kedua tangan ketika Takbiratul-Ihram?
Pertanyaan 14: Berapa posisi mengangkat kedua tangan dalam shalat?
Pertanyaan 15: Bagaimanakah letak tangan dan jari jemari?
Pertanyaan 16: Apakah hukum membaca doa Iftitah?
Pertanyaan 17: Adakah bacaan Iftitah yang lain?
Pertanyaan 18: Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah, apakah dianjurkan membaca Ta’awwudz (A’udzubillah)?
Pertanyaan 19: Ketika membaca al-Fatihah, apakah Basmalah dibaca Jahr atau sirr?
Pertanyaan 20: Apakah hukum membaca al-Fatihah bagi Ma’mum?
Pertanyaan 21: Apakah hukum membaca ayat? Apa standar panjang dan pendeknya?
Pertanyaan 22: Ketika ruku’ dan sujud, berapakah jumlah tasbih yang dibaca?
Pertanyaan 23: Apakah bacaan pada Ruku’?
Pertanyaan 24: Bagaimana pengucapan [ ]تشع الله تظن تزدهdan ucapan [ +ربنا لك اتضمدketika bangun dari ruku’ bagi imam,  ma’mum dan orang yang shalat sendirian?
Pertanyaan 25: Adakah bacaan tambahan?
Pertanyaan 26: Ketika sujud, manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?
Pertanyaan 27: Apakah bacaan sujud?
Pertanyaan 28: Apakah bacaan ketika duduk di antara dua sujud?
Pertanyaan 29: Apakah ketika bangun dari sujud itu langsung tegak berdiri atau duduk istirahat sejenak?
Pertanyaan 30: Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?
Pertanyaan 31: Apakah bacaan Tasyahhud?
Pertanyaan 32: Bagaimanakah lafaz shalawat?
Pertanyaan 33: Apa hukum menambahkan kata Sayyidina sebelum menyebut nama nabi?
Pertanyaan 34: Bagaimanakah posisi jari jemari ketika Tasyahhud?
Pertanyaan 35: Jika saya masbuq, ketika imam pada rakaat terakhir, sementara itu bukan rakaat terakhir bagi saya, imam duduk Tawarruk, bagaimanakah posisi duduk saya, Tawarruk atau Iftirasy?
Pertanyaan 36: Bagaimanakah posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?
Pertanyaan 37: Adakah doa lain sebelum salam?
Pertanyaan 38: Adakah doa tambahan lain sebelum salam?
Pertanyaan 39: Bagaimanakah salam mengakhiri shalat?
Pertanyaan 40: Ke manakah arah duduk imam setelah salam?
Pertanyaan 41: Ketika shalat, apakah Rasulullah Saw hanya membaca di dalam hati, atau dilafazkan?
Pertanyaan 42: Apakah arti thuma’ninah? Apakah standarnya?
Pertanyaan 43: Bagaimana shalat orang yang tidak ada thuma’ninah?
Pertanyaan 44: Apa pendapat ulama tentang Qunut Shubuh?
Pertanyaan 45: Apakah dalil hadits tentang adanya Qunut Shubuh?
Pertanyaan 46: Apakah ketika membaca Qunut mesti mengangkat tangan?
Pertanyaan 47: Jika seseorang shalat di belakang imam yang membaca Qunut, apakah ia mesti mengikuti imamnya?
Pertanyaan 48: Adakah dalil keutamaan berdoa setelah shalat wajib?
Pertanyaan 49: Adakah dalil mengangkat tangan ketika berdoa?
Pertanyaan 50: Apakah dalil zikir setelah shalat?
Pertanyaan 51: Apakah ada dalil zikir jahar setelah shalat?
Pertanyaan 52: Apakah Sutrah itu?
Pertanyaan 53: Apakah dalil shalat menghadap sutrah?
Pertanyaan 54: Apakah hukum menggunakan sutrah?
Pertanyaan 55: Adakah hadits yang menyebut Rasulullah Saw shalat tidak menghadap Sutrah?
Pertanyaan 56: Apakah boleh membaca ayat ketika ruku’ dan sujud?
Pertanyaan 57: Apakah boleh berdoa ketika sujud?
Pertanyaan 58: Apakah boleh membaca doa yang tidak diajarkan nabi dalam shalat?
Pertanyaan 59: Apakah boleh berdoa bahasa Indonesia dalam shalat?
Pertanyaan 60: Berapa lamakah shalat nabi ketika shalat malam?
Pertanyaan 61: Apakah ayat yang dibaca nabi?
Pertanyaan 62: Apakah boleh shalat Dhuha berjamaah?
Pertanyaan 63: Apakah dalil membaca surat as-Sajadah pada shubuh jum’at?
Pertanyaan 64: Bagaimana jika dibaca terus menerus?
Pertanyaan 65: Ketika akan sujud, apakah imam bertakbir?
Pertanyaan 66: Apakah dalil shalat sunnat Rawatib?
Pertanyaan 67: Apakah shalat sunnat Rawatib yang paling kuat?
Pertanyaan 68: Apakah ada perbedaan antara shalat Shubuh dan shalat Fajar?
Pertanyaan 69: Jika terlambat melaksanakan shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?
Pertanyaan 70: Adakah dalil shalat sunnat Qabliyah Maghrib?
Pertanyaan 71: Waktu hanya cukup shalat dua rakaat, antara Tahyatalmasjid dan Qabliyah, apakah shalat
Tahyatalmasjid atau Qabliyah?
Pertanyaan 72: Berapakah jarak musafir boleh shalat Jama’/Qashar?
Pertanyaan 73: Berapa hari boleh Qashar/Jama’?
Pertanyaan 74: Bagaimanakah cara shalat khusyu’?
Pertanyaan 75: Apakah fungsi shalat?
Pertanyaan 76: Apakah shalat yang tertinggal wajib diganti?
Pertanyaan 77: Apakah hukum orang yang meninggalkan shalat secara sadar dan sengaja

 

Download Buku 77 Tanya Jawab Shalat (PDF)

Artikel terkait:

Buku 37 Masalah Populer karya H. Abdul Somad, Lc., MA

 

Jangan lupa share via Facebook dan Twitter ya. Klik tombol di bawah.

Buku 37 Masalah Populer karya H. Abdul Somad, Lc., MA

BUKU 37 MASALAH POPULER

Di beberapa ceramah beliau disampaikan buku ini dapat diperoleh gratis dengan mencari melalui Google. Kami pun mencoba mencarinya lalu kemudian memposting ulang di blog ini untuk memudahkan masyarakat yang ingin membaca.

Isi:
Ikhtilaf dan Mazhab – Bid’ah – Memahami Ayat dan Hadits Mutasyabihat – Beramal Dengan
Hadits
Dha’if Isbal – Jenggot – Kesaksian Untuk Jenazah – Merubah Dhamir (Kata Ganti) Pada
Kalimat “
Allahummaghfir lahu” – Duduk di Atas Kubur – Azab Kubur Talqin Mayat – Amal
Orang Hidup Untuk Orang Yang Sudah Wafat – Bacaan al-Qur’an Untuk Mayat – Membaca alQur’an di Sisi Kubur – Keutamaan Surat Yasin – Membaca al-Qur’an Bersama –
Tawassul
Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha – Shalat di Masjid Ada Kubur – Doa
Qunut Pada Shalat
Shubuh – Shalat
Qabliyah Jum’at – Bersalaman Setelah Shalat – Zikir Jahr Setelah Shalat –
Berdoa Setelah Shalat – Doa Bersama – Berzikir Menggunakan Tasbih – Mengangkat Tangan
Ketika Berdoa – Mengusap Wajah Setelah Berdoa – Malam
Nishfu Sya’ban – ‘Aqiqah Setelah
Dewasa – Memakai Emas Bagi Laki-Laki – Poto – Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw –
Benarkah Ayah dan Ibu Nabi Kafir? –
as-Siyadah (Mengucapkan “Sayyidina Muhammad Saw”)
Salaf dan Salafi – Syi’ah.

 

Download Buku 37 Masalah Populer (PDF)

 

Artikel terkait:

Buku 77 Tanya Jawab Seputar Sholat karya H. Abdul Somad Lc. M.A.

 

Jangan lupa share via Facebook dan Twitter ya. Klik tombol di bawah.

Memaknai Rizki

Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 1-8).

 

Rasulullah sallalLaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى, وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Seorang hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, harta yang ia berikanlah (yang dibelanjakan dijalan allah-pen) yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).
Sahabat yang dirahmati Allah, mari sejenak kita memaknai kembali rizki yang diberikan Allah SWT. Tujuannya agar membuat kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan, dan bukan sebaliknya, menyesali apa yang dimiliki orang lain namun tidak kita miliki.
Tidak ada sesuatu pun yang diberikan Allah swt kepada kita, besar atau kecil, banyak atau sedikit, melainkan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban.

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434)

Sahabat yang insyaAllah dimuliakan Allah, bila roti yang baru kita makan setengah sudah jatuh, maka rezeki kita sejatinya adalah setengah roti itu. Setengahnya lagi mungkin diberikan Allah untuk makhluk Allah yang lain seperti burung, atau semut yang akan menghampiri potongan roti yang jatuh. Sahabat, jika kendaraan yang sudah kita pakai satu tahun dan belum rusak, namun sudah hilang, maka rizki kita memiliki motor itu hanya selama satu tahun. Bukankah Allah swt sudah menetapkan rizki, umur dan jodoh bahkan sebelum kita dilahirkan. Tidak akan berkurang atau tertukar apa yang telah Allah tetapkan walau sedikit. Tidak akan Allah mewafatkan kita kecuali jatah rizki kita di dunia ini sudah habis.

Secara kadar, sepotong roti atau hanya setahun memiliki kendaraan mungkin sedikit bagi kita. Namun di tangan orang yang berbeda, keberkahannya bisa jadi berbeda pula. Bila sepotong roti itu, kita syukuri saat diperoleh, memohon keberkahan saat dimakan, dan sebagian diberikan kepada sahabat kita, maka keberkahan dan kenikmatannya tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya makan sambil menyesali dan menginginkan makanan yang lain. Bila setahun bersama kendaraan kita gunakan untuk menyambung tali silaturrahim, mengantar tetangga yang kesusahan, mendatangi masjid dan majelis ilmu, maka tentu lebih berkah dan nikmat bila dibandingkan dengan orang yang hanya disibukkan menghias dan membanggakan kendaraannya tersebut bahkan dipakai untuk hal yang sia-sia.

Sahabat, adakah kita sudah mempersiapkan pertanggungjawaban atas apa yang kita miliki?

Sahabat yang insyaAllah dicintai Allah, harta yang sesungguhnya adalah apa yang akan kita bawa pulang menghadap Sang Pencipta saat meninggal dunia. Bukan tabungan yang disimpan, bukan rumah yang ditinggalkan, bukan kendaraan yang akhirnya dipakai orang lain, akan tetapi amal shalih, itulah sebaik-baik bekal seorang hamba.

Dengan makanan yang ada, pikirkanlah bagaimana makanan itu bisa ditukar dengan amal shalih. Dengan kendaraan yang ada, pikirkanlah bagaimana kendaraan itu bisa jadi sumber kebaikan. Dari uang yang kita simpan, rencanakan bagaimana bisa ‘membeli’ amal shalih. Dengan pakaian yang kita punya, pikirkan bagaimana bisa bekasnya bisa jadi amal shalih. Jika dengan semua itu, banyak atau sedikit, bisa menjadi sebab diperolehnya amal shalih yang berlimpah, maka itulah sejatinya keberkahan rizki sekaligus keberuntungan untuk manusia kelak di hari akhir. Di akhirat, manusia sangat butuh amal shalih untuk meringankan siksa mereka dan harapan masuk syurga. Tidak ada harta, teman atau keluarga karena masing-masing sibuk dengan nasibnya.

Jika sayang dengan keluarga, sayangi mulai saat ini. Tanamkan untuk tidak cinta dunia, nafkahi dengan harta yang baik dan halal, serta ajari untuk memberi. Janganlah mengajari bermegahan, memberi harta dari pekerjaan yang syubhat atau haram. Anak cucu kita, mereka harapan kita, sumber do’a untuk keselamatan dan ampunan kita, selagi mereka masih di dunia.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim ayat 6).

Rizki bukan tujuan, melainkan sarana. Gunakan mereka di dunia untuk sebesar-besarnya manfaat akhirat. Banyak atau sedikit sudah jadi ketetapan Allah SWT.

Bulan Rajab dan Isra- Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w.

Pukul 12.20 saya berangkat menuju masjid Omar untuk melaksanakam sholat Jum’at. Di sini, meskipun waktu dzuhur saat ini masuk pada pukul 11.54, namun khutbah tetap dimulai pukul 12.50, waktu istirahat para pekerja, dan selesai sekitar pukul 13.30. 


Khutbah Jum’at yang disampaikan dalam dua bahasa, Arab dan Inggris secara selang-seling, kali ini mengenai peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang terjadi pada 27 Rajab ini merupakan pemberian dari Allah kepada nabi untuk mengobati kesedihan beliau karena wafatnya dua orang yang sangat dikasihinya, yakni paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah r.a.   

Pada suatu hari menjelang shubuh, Jibril a.s. membangunkan Nabi untuk menuju keluar masjidil haram di Mekkah dan memperlihatkan buroq, sejenis hewan berukuran antara kuda dan keledai. Sekejap waktu kemudian, dengan mengendarai buroq, Nabi telah sampai di masjidil aqsa di Jerusalem. Di sana, Rasulullah memimpin sholat shubuh, mengimami para nabi sebelumnya. Dengan ini Allah menunjukkan keutamaan Rasulullah Muhammad di atas nabi sebelumnya dan merupakan nabi yang terakhir. 

Selepas sholat, Jibril mengajak kembali Nabi Muhammad untuk menuju ke langit. Di setiap langit, Jibril mengetuk pintu dan mengucap salam hingga pintu langit dibuka. Di setiap langit hinga langit ke tujuh, ada nabi-nabi sebelumnya. Melewati langit ke tujuh, Jibril tidak lagi menemani Nabi untuk naik sehingga hanya Nabi Muhammad yang memasukinya. Di sanalah Allah swt menyampaikan ‘hadiah’ berupa perintah sholat yang awalnya 50 waktu. Ketika Rasul turun dan bertemu nabi Musa, beliau menyampaikan bahwa 50 terlalu banyak untuk ummat Nabi Muhammad, sehingga beliau meminta pengurangan kepada Allah. Beberapa kali proses tersebut berulang hingga akhirnya jumlahnya menjadi 5 waktu namun dengan kebaikan yang sama seperti 50 waktu. 

Mendengarkan khutbah ini, mengingatkan kembali bahwa sholat dapat membawa kebahagiaan kepada orang yang melaksanakannya sesuai tuntunan agama. Menutup khutbah, khotib menyampaikan sebagai umat Islam, kita dapat melaksanakan Isra dengan cara bangun sebelum shubuh, meninggalkan tempat tidur, berwudhu dan menuju tempat sholat. Lalu kita melaksanakan Mi’raj dengan melaksanakan sholat. Semoga kita dan anak cucu kita menjadi muslim yang senantiasa menegakkan sholat. 

Asshalaatu mi’rajul mu’miniin

%d bloggers like this: