Memaknai Rizki

Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 1-8).

 

Rasulullah sallalLaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى, وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Seorang hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, harta yang ia berikanlah (yang dibelanjakan dijalan allah-pen) yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).
Sahabat yang dirahmati Allah, mari sejenak kita memaknai kembali rizki yang diberikan Allah SWT. Tujuannya agar membuat kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan, dan bukan sebaliknya, menyesali apa yang dimiliki orang lain namun tidak kita miliki.
Tidak ada sesuatu pun yang diberikan Allah swt kepada kita, besar atau kecil, banyak atau sedikit, melainkan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban.

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434)

Sahabat yang insyaAllah dimuliakan Allah, bila roti yang baru kita makan setengah sudah jatuh, maka rezeki kita sejatinya adalah setengah roti itu. Setengahnya lagi mungkin diberikan Allah untuk makhluk Allah yang lain seperti burung, atau semut yang akan menghampiri potongan roti yang jatuh. Sahabat, jika kendaraan yang sudah kita pakai satu tahun dan belum rusak, namun sudah hilang, maka rizki kita memiliki motor itu hanya selama satu tahun. Bukankah Allah swt sudah menetapkan rizki, umur dan jodoh bahkan sebelum kita dilahirkan. Tidak akan berkurang atau tertukar apa yang telah Allah tetapkan walau sedikit. Tidak akan Allah mewafatkan kita kecuali jatah rizki kita di dunia ini sudah habis.

Secara kadar, sepotong roti atau hanya setahun memiliki kendaraan mungkin sedikit bagi kita. Namun di tangan orang yang berbeda, keberkahannya bisa jadi berbeda pula. Bila sepotong roti itu, kita syukuri saat diperoleh, memohon keberkahan saat dimakan, dan sebagian diberikan kepada sahabat kita, maka keberkahan dan kenikmatannya tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya makan sambil menyesali dan menginginkan makanan yang lain. Bila setahun bersama kendaraan kita gunakan untuk menyambung tali silaturrahim, mengantar tetangga yang kesusahan, mendatangi masjid dan majelis ilmu, maka tentu lebih berkah dan nikmat bila dibandingkan dengan orang yang hanya disibukkan menghias dan membanggakan kendaraannya tersebut bahkan dipakai untuk hal yang sia-sia.

Sahabat, adakah kita sudah mempersiapkan pertanggungjawaban atas apa yang kita miliki?

Sahabat yang insyaAllah dicintai Allah, harta yang sesungguhnya adalah apa yang akan kita bawa pulang menghadap Sang Pencipta saat meninggal dunia. Bukan tabungan yang disimpan, bukan rumah yang ditinggalkan, bukan kendaraan yang akhirnya dipakai orang lain, akan tetapi amal shalih, itulah sebaik-baik bekal seorang hamba.

Dengan makanan yang ada, pikirkanlah bagaimana makanan itu bisa ditukar dengan amal shalih. Dengan kendaraan yang ada, pikirkanlah bagaimana kendaraan itu bisa jadi sumber kebaikan. Dari uang yang kita simpan, rencanakan bagaimana bisa ‘membeli’ amal shalih. Dengan pakaian yang kita punya, pikirkan bagaimana bisa bekasnya bisa jadi amal shalih. Jika dengan semua itu, banyak atau sedikit, bisa menjadi sebab diperolehnya amal shalih yang berlimpah, maka itulah sejatinya keberkahan rizki sekaligus keberuntungan untuk manusia kelak di hari akhir. Di akhirat, manusia sangat butuh amal shalih untuk meringankan siksa mereka dan harapan masuk syurga. Tidak ada harta, teman atau keluarga karena masing-masing sibuk dengan nasibnya.

Jika sayang dengan keluarga, sayangi mulai saat ini. Tanamkan untuk tidak cinta dunia, nafkahi dengan harta yang baik dan halal, serta ajari untuk memberi. Janganlah mengajari bermegahan, memberi harta dari pekerjaan yang syubhat atau haram. Anak cucu kita, mereka harapan kita, sumber do’a untuk keselamatan dan ampunan kita, selagi mereka masih di dunia.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim ayat 6).

Rizki bukan tujuan, melainkan sarana. Gunakan mereka di dunia untuk sebesar-besarnya manfaat akhirat. Banyak atau sedikit sudah jadi ketetapan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: