Amerika Latin dan Populisme

Pada tahun 1990-an, Amerika Latin mengalami kegagalan dalam bidang ekonomi yang disebabkan populisme ekonomi. Sepertinya tulisan ini mengkritisi penerapan ideologi populisme ekonomi dan demokrasi sebagai ideologi yang harus diwaspadai penerapannya. Populisme ekonomi, begitulah istilah yang digunakan kebanyakan ekonom menyiratkan demokrasi yang didalamnya tidak terdapat hak individu. Demokrasi yang tak terbatas dimana 51 persen rakyat bisa secara legal melanggar hak 49 persen sisanya menyebabkan tirani. Tampaknya populisme sebenarnya hanya tanggapan emosional dan bukan berdasarkan pada ide-ide. Analisisnya, populisme tampaknya tidak berkurang meskipun sudah mengalami banyak kegagalan. Brasil, Argentina, Cile, dan Peru sudah berulang kali mengalami kegagalan kebijakan populis sejak akhir Perang Dunia II. Tapi, generasi baru pemimpinnya tampaknya tidak belajar dari sejarah dan terus berupaya meraih solusi-solusi populisme yang terlalu menyederhanakan. Tentu saja, pada prosesnya, mereka malah memperparah situasi.

Ketika menjadi Gubernur Bank Sentral pada tahun 1994, Pedro Malan di bawah kepemimpinan Presiden Brasil, Fernando Henrique Cardoso adalah salah seorang arsitek Plano Real yang berhasil mengehentikan cengraman inflasi di Brasil setelah meningkat hingga 5000 persen selama dua belas bulan antara pertengahan 1993 dan pertengahan 1994. Amerika Latin ternyata belum mampu mengeluarkan dirinya dari populisme ekonomi yang telah membuat seluruh wilayah itu tak berdaya dalam kompetisinya dengan bagian dunia lain.

Populisme adalah filsafat politik yang mendukung hak dan kekuasaan rakyat, yang biasanya menentang kaum elit istimewa. Populisme ekonomi mengejar reformasi, bukan revolusi. Para penggunanya mengetahui masalah apa saja yang harus dihadapi, Tapi strategi untuk menghadapinya tidak jelas. Tidak seperti kapitalisme atau sosialisme, populisme ekonomi tidak membuat analisis resmi terhadap kondisi-kondisi yang menuntut penciptaan kemakmuran dan peningkatan standar kehidupan. Populisme ekonomi jauh dari bersifat intelektual. Hal itu lebih merupakan teriakan kesakitan. Para pemimpin populis menawarkan janji-janji yang jelas untuk menyingkirkan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan. Redistribusi lahan dan penindakan pejabat korup yang dituduh mencuri uang rakyat miskin dijadikan solusi. Para pemimpin menjanjikan tanah, perumahan, dan pangan bagi semua orang. Keadilan juga dikejar dan pada umumnya bersifat redistribusi. Dalam semua bentuknya yang beragam, tentu saja populisme ekonomi menolak kapitalisme pasar bebas. Tapi tindakan itu salah besar, dan didasarkan pada kesalahkaprahan tentang kapitalisme. Banyak orang berpendapat bahwa kaum populis ekonomi memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai tujuan mereka dengan menggunakan lebih banyak, bukan lebih sedikit, kapitalisme. Jika terjadi kesuksesan, ketika standar kehidupan mayoritas meningkat, yang memainkan peranan penting selalu pasar yang lebih terbuka dan kepemilikan pribadi yang lebih baik.

Populisme ekonomi dipandang sebagai perpanjangan dari demokrasi ekonomi. Itu tidak benar. Kaum demokrat mendukung bentuk pemerintahan yang kekuasaannya atas isu publik dipegang secara mayoritas, tapi hal itu tidak pernah bertentangan dengan hak-hak dasar individu. Dalam masyarakat demikian hak-hak minoritas dilindungi dari mayoritas. Demokrasi merupakan proses yang berantakan dan demokrasi tentu tidak selalu menjadi bentuk pemerintahan yang efisien. Menurut Winston Churchill, demokrasi adalah bentuk terburuk pemerintahan kecuali bagi semua bentuk lainnya yang telah dicoba dari waktu ke waktu. Mau tidak mau kita harus menyimpulkan bahwa rakyat yang bertindak dengan bebas pada akhirnya akan membuat keputusan yang benar tentang cara mengatur diri mereka. Jika mayoritas membuat keputusan, yang salah, akan terjadi konsekuensi buruk bahkan pada akhirnya kekacauan sipil.

Populisme yang dikaitkan dengan hak individu disebut orang sebagai demokrasi liberal. Istilah itu digunakan untuk mencemooh para pemimpin seperti Peron yang bagi sebagian besar sejarawan bertanggung jawab atas penurunan ekonomi yang berkepanjangan setelah Perang Dunia II. Argentina masih menderita di bawah warisan itu.

Perjuangan demi kapitalisme tidak pernah selesai, Amerika Latin mungkin merupakan bukti paling nyata tentang hal itu dibandingkan wilayah-wilayah lainnya. Konsentrasi pendapatan dan para tuan tanah yang berakar di penaklukan Spanyol dan Portugal pada abad keenam belas masih menyebabkan kebencian yang mendalam dan semakin buruk. Kapitalisme di Amerika Latin masih berjuang keras.

The Age of Turbulence, part 17, Alan Greenspan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: