Pandangan Islam tentang mendengarkan nyayian

Dalam kehidupan sehari-hari, nyanyian (lagu) merupakan hal yang familiar. Hampir setiap orang  gemar mendengarkan nyanyian setiap saat. Berbagai jenis nyanyian memiliki penggemar masing-masing. Bahkan tak jarang nyanyian itu diwarnai dengan hal-hal yang jauh dari kebaikan.

Agama Islam senantiasa bertujuan membangun budi pekerti yang mulia pada umatnya. Di dalam Islam pun telah ada beberapa rambu-rambu demi kebaikan umat manusia.

Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam buku Fiqih Kontemporer menyampaikan beberapa  (ikatan) syarat yang harus dijaga:

1. Tema atau isi nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab Islam. Nyanyian yang berisi kalimat “dunia adalah rokok dan gelas arak” bertentangan dengan ajaran Islam yang telah menghukumi arak (khamar) sebagai sesuatu yang keji, termasuk perbuatan setan, dan melaknat peminumnya, pemerahnya, penjualnya, pembawa (penghidangnya), pengangkutnya, dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Sedangkan merokok itu sendiri jelas menimbulkan keburukan bagi kesehatan.

Begitupun nyanyian-nyanyian yang seronok serta memuji-muji kecantikan dan kegagahan seseorang, merupakan nyanyian yang bertentangan dengan adab-adab Islam sebagaimana diserukan oleh Kitab Sucinya:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya …” (An Nur: 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya …” (An Nur: 31)

Dan Rasulullah saw. bersabda:

“Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah dosa bagimu.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Demikian juga dengan tema-tema lainnya yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran dan adab Islam.

2. Penampilan penyanyi juga harus dipertimbangkan. Kadang-kadang syair suatu nyanyian tidak “kotor” tetapi penampilan biduan/biduanita yang menyanyikannya ada yang sentimentil, bersemangat, ada yang bermaksud membangkitkan nafsu dan menggelorakan hati yang sakit, memindahkan nyanyian dari tempat yang halal ke tempat yang haram, seperti yang didengar banyak orang dengan teriakan-teriakan yang tidak sopan.

Maka hendaklah kita ingat firman Allah mengenai istri-istri Nabi saw.:

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (Al Ahzab: 32)

Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.

3. Kalau agama mengharamkan sikap berlebih-lebihan dan israf dalam segala sesuatu termasuk dalam ibadah, maka bagaimana menurut pikiran Anda mengenai sikap berlebih-lebihan dalam permainan (sesuatu yang tidak berfaedah) dan menyita waktu, meskipun pada asalnya perkara itu mubah? Ini menunjukkan bahwa semua itu dapat melalaikan hati manusia dari melakukan kewajiban-kewajiban yang besar dan memikirkan tujuan yang luhur, dan dapat mengabaikan hak dan menyita kesempatan manusia yang sangat terbatas. Alangkah tepat dan mendalamnya apa yang dikatakan oleh Ibnul Muqaffa’: “Saya tidak melihat israf (sikap berlebih-lebihan) melainkan disampingnya pasti ada hak yang terabaikan.”

Bagi  pendengar  –  setelah  memperhatikan   ketentuan   dan batas-batas seperti  yang  telah dikemukakan – hendaklah dapat   mengendalikan   dirinya. Apabila   nyanyian   atau sejenisnya  dapat  membangkitkan syahwat, menimbulkan fitnah, menjadikannya  tenggelam  dalam khayalan,   maka hendaklah  ia  menjauhinya.  Hendaklah  ia menutup  rapat-rapat  pintu   yang dapat   menjadi   jalan berhembusnya  angin  fitnah  ke dalam  hatinya, agamanya, dan akhlaknya.

Tidak    diragukan    lagi    bahwa    syarat-syarat    atau ketentuan-ketentuan  ini  pada  masa sekarang sedikit sekali dipenuhi dalam nyanyian, baik mengenai jumlahnya, aturannya, temanya, maupun penampilannya dan kaitannya dengan kehidupan orang-orang yang sudah begitu jauh dengan agama, akhlak, dan nilai-nilai  yang  ideal.  Karena itu tidaklah layak seorang muslim memuji-muji mereka  dan  ikut  mempopulerkan  mereka, atau  ikut memperluas  pengaruh mereka. Sebab dengan begitu berarti memperluas wilayah perusakan yang mereka lakukan.

Karena itu lebih utama bagi seorang muslim  untuk  mengekang dirinya, menghindari  hal-hal yang syubhat, menjauhkan diri dari sesuatu  yang  akan dapat  menjerumuskannya  ke  dalam lembah  yang  haram  –  suatu keadaan yang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menyelamatkan dirinya.

Barangsiapa  yang  mengambil  rukhshah  (keringanan),   maka hendaklah sedapat  mungkin  memilih  yang  baik,  yang jauh kemungkinannya dari dosa. Sebab, bila mendengarkan nyanyian saja,  begitu  banyak  pengaruh  yang ditimbulkannya,  maka menyanyi tentu lebih ketat dan lebih khawatir, karena masuk ke  dalam lingkungan kesenian yang sangat membahayakan agama seorang muslim, yang jarang sekali orang dapat lolos  dengan selamat (terlepas dari dosa).

Khusus  bagi  seorang wanita maka bahayanya jelas jauh lebih besar. Karena itu Allah mewajibkan  wanita  agar  memelihara dan  menjaga  diri  serta bersikap  sopan dalam berpakaian, berjalan, dan berbicara,  yang  sekiranya dapat  menjauhkan kaum  lelaki  dari  fitnahnya  dan menjauhkan mereka sendiri dari fitnah kaum lelaki, dan melindunginya dari  mulut-mulut kotor, mata  keranjang,  dan keinginan-keinginan buruk dari hati yang bejat, sebagaimana firman Allah:

“Hai  Nabi  katakanIah   kepada   istri-istrimu,   anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan  jilbabnya  ke seluruh  tubuh   mereka.’   Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …” (Al Ahzab: 59)

Tampilnya wanita muslimah untuk menyanyi berarti menampilkan dirinya   untuk   memfitnah   atau  difitnah,  juga  berarti menempatkan dirinya dalam perkara-perkara yang haram. Karena banyak   kemungkinan  baginya  untuk berkhalwat  (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahramnya. Selain itu, pergaulan antara pria dan wanita yang  ber-tabarruj  serta  berpakaian dan bersikap semaunya, tanpa menghiraukan aturan agama, benar-benar  haram menurut syariat Islam.

Akhir kata, Islam adalah agama yang mudah, oleh karena itu janganlah dipersulit. Segala sesuatu yang ditetapkan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang diturunkan dalam Kitab Suci Al Qur’an melalui Rasulullah Muhammad saw. senantiasa mengandung kebaikan. Atas segala kesalahan yang diperbuat oleh umat Islam, semata-mata karena kekurangpahaman terhadap ajaran agamanya. Karena sungguh Islam adalah agama yang (haq) benar.

2 responses to “Pandangan Islam tentang mendengarkan nyayian

  1. mulya March 10, 2009 at 8:21 am

    maha benar Allah dengan segala firmanNya.
    Saat ini sudah sangat banyak dan dipandang sesuatu yang biasa sebuah nyanyian yang diikuti dengan pakaian dan gerakan amoral. Sungguh menyedihkan kondisi saat ini. Pemerintah, majelis ulama tidak bisa berbuat apa-apa dalam melindungi rakyatnya dari gerakan syetan berwujud manusia dengan nyanyian, tarian dan pakaian mengundang syahwat….subhanallah.

  2. karfianto March 20, 2010 at 11:17 pm

    Yup, sudah saatnya stakeholder lebih memperhatikan konten media massa, salah satunya melalui peraturan resmi. Bagaimanapun juga kebebasan harus disertai tanggung jawab terutama tanggung jawab moral.
    Di pihak lain, kita pun membentengi diri dengan ketakwaan kepada Allah swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: