Prajurit yang Kecewa

soldier

Malam ini adalah malam yang paling mengecewakan selama lebih dari tiga tahun saya disini.
Ini adalah korps yang selama ini saya banggakan sebagai lingkungan yang kental dengan suasana akademis. Korps yang selama ini dibangga-banggakan sebagai satu-satunya korps dibidangnya yang katanya ‘tidak punya saingan’. Korps yang ‘katanya’  selama ini sangat mendukung  peningkatan  minat dan bakat pasukannya. Korps yang ‘katanya’ menjunjung tinggi asas ‘konsisten’. Korps yang katanya memberikan keleluasaan pada pasukannya untuk menuntut ilmu dan menuntut pasukannya menjadi ‘manusia super’. Kekecewaan ini bukan karena masalah pelanggaran hak dan bukan karena kurangnya sarana dan prasarana. Kekecewaan ini karena sikap para pelatih yang mencla-mencle, plin-plan, tidak konsisten pada keputusan dan perkataan, mengejar rivalitas dan mengedepankan arogansi diatas toleransi.

Beberapa bulan yang lalu pasukan diperbolehkan untuk membawa senjata -yang merupakan teman dan penolong hidupnya selama ini- ke dalam barak. Keputusan ini disampaikan langsung di depan pasukan dalam suatu pertemuan formal dengan pelatih. Selang beberapa hari, ada perubahan keputusan. Perubahan ini dibuat secara sepihak seakan-akan keputusan sebelumnya merupakan keputusan yang palsu yang diberikan oleh sesama pelatih. Kami mencium adanya perang ego dan gengsi dari sesama pelatih. Memang keputusan ini ditandatangani langsung oleh Komandan. Namun, komandan pasti menyetujui keputusan ini karena ada pertimbangan dari pelatih mengingat komandan tidak pernah tau atau tidak cukup tau keadaan pasukan sebenarnya. Kami ingat, dulu pernah ada seorang pelatih yang memberikan keputusan bahwa pasukan dilarang membawa senjata ke barak. Lalu setelah itu, pasukan berdiskusi dan mengkoordinasikan kepada seorang perwira tinggi bagian persenjataan untuk meminta kejelasan mengenai masalah tersebut. Tenyata sang perwira tinggi tidak mempermasalahkan pasukan yang membawa senjata ke barak. Setelah itu keadaan menjadi lebih tenang, bahkan sampai saat ini. Mungkin keputusan sepihak kemarin yang melarang pasukan membawa senjata ke barak, dipelopori oleh sang pelatih yang pernah mengutarakan keputusan pribadinya dahulu. Mungkin karena merasa tengsin dan malu keputusannya pribadinya tidak disetujui, ia mengusahakan kepada komandan untuk memberlakukan kembali aturan larangan pasukan membawa senjata ke barak. Tentunya dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, seperti salah penggunaan, memboroskan sumber daya peluru dan alasan lain yang tidak masuk akal. Pernah diberitahukan bahwa boleh membawanya ke ruang makan. Sekarang apa bedanya membawa ke ruang makan dan ke barak bila alasannya adalah penyalahgunaan dan sumber daya peluru ? Toh semuanya sama-sama tidak pernah diawasi dan tidak ada kejelasan sanksi.

Yang lebih mengecewakan adalah malam ini. Saya, sersan mayor, yang selama tiga tahun lebih menjadi personel gudang senjata, dilarang untuk masuk gudang senjata oleh pelatih yang sedang piket. Sudah lebih dari tiga tahun ini, saya yang menjaga kerapihan, inventaris senjata, dan memperbaiki senjata yang rusak dengan tangan saya sendiri. Saya rela mengorbankan waktu tidur dan kegiatan akademik pribadi untuk merawat gudang senjata supaya kebutuhan seluruh pasukan akan senjata yang baik dapat terpenuhi. Saya juga sudah menganggap  gudang senjata sebagai gudang tempat belajar dan meningkatkan kemampuan dibidang persenjataan. Bukan cuma untuk saya pribadi, tapi untuk memberi contoh yang baik pada anak buah, untuk kemajuan korps, untuk kemajuan dunia militer juga. Katanya, untuk bisa masuk gudang senjata harus membuat ijin tertulis kepada piket. Padahal perwira tinggi bagian persenjataan sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Katanya itu keputusan terbaru yang sudah disosialisasikan. Yang jadi pertanyaan, kapan dijelaskan bahwa hal itu berlaku juga untuk personel gudang senjata ? Lalu buat apa ada personel gudang senjata? , kalau sewaktu-waktu ingin mengecek keadaan senjata dan memperbaiki senjata yang rusak apakah harus membuat ijin tertulis pada piket? Mana toleransi untuk kesetiaan personel gudang senjata?

Saya tidak paham sama sekali jalan pikiran mereka !!!

Nasib pahit dan mengecewakan seperti ini juga pernah dialami mantan panglima ABRI, Jenderal L.B. Moerdani, perwira yang dulu pernah dikeluarkan dari RPKAD, korps yang dia tempati sejak berdirinya korps itu, sampai menjadi korps yang besar seperti sekarang ini. Dikeluarkan  karena perlombaan rivalitas dari perwira yang lain dan dia dianggap seperti orang lain dalam korps itu.

Daripada harus tercekik oleh keadaan ini, mungkin akan lebih baik apabila saya mengundurkan diri secara terhormat sebagai personel gudang senjata. Saya kuburkan hasil keringatku dan tidak perlu orang lain mengetahuinya karena saya tidak butuh pujian dan ucapan terima kasih kalian, tapi harapan dan kesetiaanku tidak akan pernah hilang. Ilmu yang saya dapatkan disana selama ini saja sudah cukup bagi saya. Terima kasih Yaa Allah atas kesempatan itu.

2 responses to “Prajurit yang Kecewa

  1. JR May 1, 2008 at 10:26 am

    Bos, pa kabar?
    Karena dilarang pelatih, akhirnya prajurit uring-uringan….🙂

  2. karfi May 2, 2008 at 1:19 am

    Alhamdulillah baek, habis uring-uringan ngerjain kerjaan yang ilegal.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: